Ledakan Petasan Hancurkan Musala di Blitar, Polisi Tahan 1 Pelaku

Ihya' Ulumuddin, Antara · Kamis, 06 Juni 2019 - 20:34 WIB
Ledakan Petasan Hancurkan Musala di Blitar, Polisi Tahan 1 Pelaku

Kondisi pemondokan dan Musala Tarbiyatul Mubtadi’in, Dusun Jombor, Desa Mandesan, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar, yang hancur akibat ledakan petasan, Selasa malam (4/6/2019). (Foto: iNews/Robby Ridwan)

BLITAR, iNews.id – Polres Blitar, Jawa Timur (Jatim), menahan RR, salah satu yang diduga terlibat dalam pembuatan petasan yang meledak hingga menghancurkan Musala Tarbiyatul Mubtadi’in, Dusun Jombor, Desa Mandesan, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar, pada malam takbiran, Selasa (4/6/2019). Polisi juga masih mencari satu pelaku lain yang ikut membuat.

Kapolres Blitar AKBP Anissullah M Ridha mengatakan, RR dengan rekannya sengaja membuat alat itu. Kombinasi dari oksigen murni dan gas dari bahan karbit itu dimasukkan ke dalam wadah plastik yang kemudian disiapkan untuk malam Lebaran dan saat Lebaran.

“Pengakuan RR memang membuat alat dengan menggunakan gabungan oksigen murni dan gas dari bahan karbit,” kata Kapolres Blitar, Kamis (6/6/2019).


BACA JUGA: Ledakan Petasan Hancurkan Musala dan Rusak TPA di Blitar, 2 Korban Luka-luka


Berdasarkan keterangan yang bersangkutan, kegiatan itu dianggap rutin dan sudah sering dilakukan. Namun, saat malam kejadian itu dimungkinkan ada kesalahan. Mereka mengumpulkan 30 kantong plastik yang berisi campuran bahan itu dalam satu tempat.

“Mereka lakukan dan kumpulkan dalam satu tempat ada 30 (bahan) yang mudah meledak dan siang hari, sehingga udara panas yang kemungkinan sebabkan ledakan beruntun di rumah itu,” katanya.

Selain telah menahan RR, polisi masih mencari satu orang yang ikut membuat. Polisi meminta agar yang bersangkutan segera menyerahkan diri. Mereka akan dijerat dengan pasal 187 KUHP, yakni menimbulkan pembakaran dan pembakaran dengan ancaman hukuman di atas empat tahun.


BACA JUGA: Petasan Meledak saat Diracik, 1 Orang Luka Parah dan Rumah Hancur di Magelang


Kapolres juga mengatakan, sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar ke depan tidak boleh ada kegiatan serupa, baik dengan mercon maupun menggunakan bahan pohon palem lalu diberi lubang dan oksigen. Pihaknya juga akan memberikan sanksi tegas jika aturan itu dilanggar, mengingat dampak negatif yang ditimbulkan lebih banyak.

“Jika anggap ini tradisi, itu bahan mudah meledak dan berbahaya. Tidak masuk bahan peledak tapi bisa mengakibatkan kerusakan dan luka,” kata Kapolres.

Terkait dengan dua korban luka akibat ledakan itu, Kapolres mengatakan Asbiyan Maulanan kini sudah pulang dari perawatan rumah sakit. Luka yang dideritanya ringan, yakni hanya lecet bagian kepala akibat kejatuhan genteng. Sementara kondisi M Rifai masih memerlukan penanganan serius dan rencananya akan dirujuk ke RS di Malang.

“Yang kedua kemarin menderita lebih parah, terbakar 65 persen dan akan dirujuk ke RS di Malang. Korban terbakar karena diminta bawa satu ke dalam rumah. Pas di dalam, tidak tahu pemicunya apa, sehingga terjadi ledakan. Di sana ada 30 buah bahan yang sama. Untuk pemicu ledakan kami belum tahu, saya kira terkena panas,” katanya.

Hingga kini bangunan musala dan TPA Tarbiyatul Mudtadi’in Desa Mandesan, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar masih rusak. Warga diimbau tidak mendekat ke lokasi bangunan itu.


Editor : Maria Christina