Mengaku Anggota TNI, Residivis di Ngawi Cabuli Siswi SMP

Antara ยท Kamis, 24 Januari 2019 - 11:27 WIB
Mengaku Anggota TNI, Residivis di Ngawi Cabuli Siswi SMP

Ilustrasi pemerkosaan. (Foto: Okezone)

NGAWI, iNews.id – Seorang pria di Ngawi, Jawa Timur, ditangkap polisi lantaran ketahuan mencabuli anak di bawah umur. Untuk melancarkan aksinya, pelaku yang merupakan residivis dalam kasus serupa ini kerap mengaku sebagai anggota TNI.

Kasat Reskrim Polres Ngawi, AKP Indra Nadjibmenyebutkan, tersangka bernama Wahono (43), warga Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. "Sedangan korban adalah AAN (15), warga Kecamatan Padas yang merupakan pelajar kelas 9 salah satu madrasah sanawiah di Ngawi," ujar AKP Indra kepada wartawan Kamis (24/1/2019­).

Menurut dia, tersangka ini merupakan residivis atas kasus yang sama. Dia bahkan baru beberapa bulan bebas dari Lembaga Pemasyarakatan Klaten, Jawa Tengah juga karena melakukan pelecehan seksual terhadap anak.

Indra menjelaskan, kasus pencabulan yang terjadi di Ngawi bermula saat pelaku berkenalan dengan korban melalui media sosial. Pelaku mengelabui korbannya dengan mengaku sebagai anggota TNI. Setelah akrab, korban diajak bertemu di Ngawi dan kemudian berkencan.

"Selama berkencan, korban telah beberapa kali disetubuhi di hotel dan rumah sewa. Awalnya, korban menolak. Namun pelaku terus mendesak dengan janji akan dinikahi dan dibelikan sepeda motor baru. Korban akhirnya terbujuk," kata Indra.

Setelah lama janji tak kunjung dipenuhi dan pelaku sering menghindar, korban akhirnya melaporkan peristiwa yang dialaminya ke orang tuanya. Orang tua korban yang mengetahui cerita anaknya lalu langsung melaporkan pelaku ke polisi. "Pelaku berhasil ditangkap polisi setelah dibujuk korban datang ke Ngawi," kata dia lagi.

Dalam pemeriksaan, pelaku sempat tidak mengakui perbuatannya. Selain itu, pelaku juga berbelit-belit dalam menyampaikan keterangan kepada polisi. Dengan latar belakang tersebut serta kasus serupa yang tak membuatnya jera, maka pelaku akan dikenakan dengan pasal berlapis agar hukumannya maksimal.

Pelaku akan dikenai pasal 82 (1) UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang atau pasal 332 KUHP.


Editor : Himas Puspito Putra