MUI Jatim Serukan kepada Umat Islam agar Ucapan Salam Pembuka Semua Agama Tak Dicampur

Ihya' Ulumuddin ยท Senin, 11 November 2019 - 16:09 WIB
MUI Jatim Serukan kepada Umat Islam agar Ucapan Salam Pembuka Semua Agama Tak Dicampur

MUI. (Foto: Istimewa)

SURABAYA, iNews.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur (Jatim) menyerukan agar ucapan salam disampaikan sesuai dengan agama masing-masing, tidak dicampur sebagaimana dilakukan selama ini. Seruan ini disampaikan MUI Jatim kepada para pemangku kebijakan dan terutama umat Islam.

Seruan MUI Jatim ini tertuang dalam delapan poin tausiah yang disampaikan secara luas kepada publik. Salam pembuka seperti itu dinilai justru perusak kepada ajaran agama tertentu.

“Dewan pimpinan MUI Jatim menyerukan kepada umat Islam khususnya, dan pemangku kebijakan agar dalam persoalan salam pembuka, dilakukan sesuai dengan ajaran agama masing-masing. Untuk umat Islam, cukup mengucapkan assalamualaikum wr.wb. Dengan demikian, bagi umat Islam akan terhindar dari perbuatan subhat, yang dapat merusak kemurnian dari agama yang dianutnya,” demikian penggalan seruan MUI Jatim.

 

BACA JUGA: Soal Pasal Zina dalam RKUHP, MUI Setuju Moral Jadi Urusan Negara

 

Ketua MUI Jatim KH Abdussomad Buchori mengatakan, seruan tersebut bukan fatwa, tetapi hanya tausiah biasa. “Yang perlu dipahami itu adalah tausiah, bukan fatwa,” kata kiai sepuh Jatim Abdussomad, Senin (11/11/2019).

Abdussomad menjelaskan, seruan tersebut disampaikan berdasarkan hasil rekomendasi rapat kerja nasional (Rakernas) MUI pada tanggal 11-13 Oktober di Nusa Tenggara Barat (NTB) beberapa waktu lalu.

Kiai Abdussomad menjelaskan, salam adalah doa dan doa adalah ibadah. Tetapi, agama tidak boleh dicampur aduk. “Agama itu pada dasarnya ekslusif. Keyakinan itu sistem. Agama itu sistem keyakinan yang punya sistem ibadah sendiri-sendiri,” katanya.

 

BACA JUGA: MUI Mengaku Selama Ini Belum Pernah Bahas Fatwa Ucapan Selamat Natal

 

Dia mencontohkan, ketika umat Islam mengucapkan salam ‘Assalamualaikum’, itu adalah doa. Maknanya semoga Allah SWT memberi keselamatan kepada kamu sekalian. “Itu adalah salam khusus bagi umat Islam,” ujarnya.

Abdussomad mengatakan, agama lain juga memiliki salam sendiri-sendiri. Hal itu juga berlaku untuk penganut agama masing-masing.

Dia juga mengatakan, salam pembuka dalam berbagai agama tersebut tidak bisa disebut sebagai bentuk toleransi. MUI Jatim menilai antarumat beragama harus saling menghormati dan menghargai, namun hal itu tidak berlaku bagi sebuah ibadah.

“Jadi, bukan berarti kalau orang salam nyebut semua (salam semua agama), itu wujud kerukunan. Itu justru perusak kepada ajaran agama tertentu,” katanya.

“Kerukunan itu misalanya kalau ada kebanjiran atau gempa, kita harus tolong menolong, ndak usah tanya agama. Kalau ada kecelakaan kita tolong ndak usah tanya agama. Kalau kita perkawinan, tanya agama karena agama mengatur perkawinan. Jangan semua agama boleh, karena itu merusak ajaran. Ini perlu didudukkan masalah ini,” katanya.


Editor : Maria Christina