Pastikan Lokasi Veronica Koman, Wakapolda Jatim ke Konjen Australia di Surabaya

Ihya' Ulumuddin · Rabu, 11 September 2019 - 13:23 WIB
Pastikan Lokasi Veronica Koman, Wakapolda Jatim ke Konjen Australia di Surabaya

Wakapolda Jatim Brigjen Pol Toni Harmanto sesuai bertemu Konjen Australia di Surabaya, Rabu (11/9/2019). (Foto: iNews.id/Ihya’ Ulumuddin)

SURABAYA, iNews.id – Wakapolda Jawa Timur (Jatim) Brigjen Pol Toni Harmanto mendatangi Konsulat Jenderal (Konjen) Australia di Surabaya, Rabu (11/5/2019). Kedatangannya untuk memastikan keberadaan tersangka provokasi insiden penyerangan Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan Surabaya, Veronica Koman, di negara kanguru tersebut.

Apakah aktivis Papua dan pengacara itu saat ini berada di Australia? Toni enggan membeberkan. “Kami ini datang untuk memastikan keberadaan yang bersangkutan di negara mana. Di wilayah mana. Sebab, suaminya warga negara Australia,” kata Toni, Rabu (11/9/2019).

Toni menyampaikan, kedatangannya ke Konjen Australia hanyalah untuk menyampaikan data terkait Veronica Koman. Selain itu, pihaknya juga berharap ada kerja sama dengan pihak Australia.

“Prinsipnya, mereka (Australia) tidak akan turut campur dalam urusan hukum negara kita. Namun, mereka siap membantu,” katanya.

BACA JUGA:

Polda Jatim Layangkan Surat Panggilan ke-2 untuk Veronica, Red Notice Disiapkan

Polda Jatim Minta Imigrasi Cabut Paspor Tersangka Kerusuhan Papua Veronica Koman

Dalam waktu dekat, lanjut Toni, Polda Jatim juga akan menerbitkan surat Daftar Pencarian Orang (DPO) terhadap Veronica. Langkah ini diambil karena Veronica belum juga mengindahkan suarat pemanggilan polisi.

“Kami sudah dua kali melayangkan surat panggilan. Tetapi tidak diindahkan. Maka segara akan diterbitkan DPO. Berikutnya, kami akan layangkan surat-menyurat untuk berkomunikasi dengan kantor Kedutaan Besar Indonesia yang ada di wilayah di mana tersangka berada,” katanya.

Diketahui, Polda Jatim menetapkan Veronica Koman sebagai tersangka dalam kasus pengepungan asrama mahasiswa Papua Jalan Kalasan. Penetapan ini dilakukan menyusul penyebaran berita bohong dan provokatif di media sosial.

Pada kasus ini Veronica dijerat dengan pasal berlapis, yakni Undang-Undang (UU) tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan KUHP Pasal 160 tentang larangan perbuatan menghasut di muka umum.

Kemudian, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 Pasal 14 dan 16 tentang Peraturan Hukum Pidana, yang mengatur tentang penyebaran berita bohong yang dengan sengaja untuk membuat keonaran dan UU Nomor 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Rasis dan Etnis.

Pengungkapan kasus Veronica Koman berdasarkan hasil pengembangan terhadap tersangka Tri Susanti (Susi). Dari pemeriksaan Susi, penyidik menemukan keterlibatan Veronica.

“Awalnya VK kami panggil sebagai saksi. Tetapi dia tidak hadir. Setelah kami dalami, ternyata dia terlibat dan kami tetapkan tersangka,” kata Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan beberapa waktu lalu.


Editor : Maria Christina