Polisi Jadwalkan Pemeriksaan Via Vallen dan Nella Kharisma Pekan Depan

Ihya' Ulumuddin ยท Jumat, 07 Desember 2018 - 15:46 WIB
Polisi Jadwalkan Pemeriksaan Via Vallen dan Nella Kharisma Pekan Depan

Pedangdut Via Vallen. (Foto: dok iNews.id)

SURABAYA, iNews.id – Penyidik Ditreskrimsus Polda Jatim menjadwalkan akan segera memeriksa dua pedangdut Via Vallen dan Nella Kharisma. Keduanya akan diminta keterangan atas dugaan keterlibatannya sebagai bintang iklan kosmetik illegal.

Hal ini berdasarkan pengakuan tersangka berinisial KIL yang menggunakan jasa sejumlah artis untuk mempromosikan kosmetik produksinya. Untuk jasa ini, tersangka mengaku memberikan honor Rp7 juta hingga 15 juta per pekannya kepada para pedangdut tersebut.

Atas pengakuan itu, maka penyidik memandang perlu memeriksa para saksi. Termasuk beberapa artis yang menjadi bintang iklan produk kosmetik illegal tersebut.

"Kami akan memanggil beberapa endorse yang menjadi iklan produk ini, salah satunya yang berdomisili di wilayah Jawa Timur. Siapa dia? Via Vallen dan Nella Kharisma," kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera, Jumat (7/12/2018).


BACA JUGA:

Promosikan Kosmetik Oplosan, Via Vallen Akan Diperiksa Polisi

Via Vallen dan Nella Kharisma Akan Keliling Bersama Gus Ipul-Puti


Dia menegaskan, penyidik sudah mengeluarkan jadwal pemanggilan pada pertengahan minggu depan, tepatnya tanggal 12 dan 13 Desember 2018. "Polda Jawa Timur menjadwalkan hari Rabu dan Kamis minggu depan,” ujarnya.

Sebelumnya, Dirreskrimsus Polda Jatim Kombes Pol Ahmad Yusep Gunawan mengatakan, ada enam artis yang menjadi endorser produk kosmetik ilegal milik tersangka KIL. Mereka antara lain VV, NR, MP, NK, DJB dan DK.

Produk kosmetik merek DSC Beauty sudah diproduksi sejak dua tahun silam. Pelaku menggunakan bahan campuran dari sejumlah merek terkenal, antara lain, Marcks Beauty Powder, Mustika Ratu, Sabun Papaya, Vivo Lotion, Vasseline, Sriti dan lain-lain.

Tersangka KIL juga menjual produknya dengan banderol mulai dari Rp350.000 hingga Rp500.000 per paket. Dalam sebulan, tersangka mampu menjual sebanyak 750 paket dengan wilayah penjualan mulai dari Surabaya, Jakarta, Bandung, Medan dan Makassar.

Dalam perkara ini, tersangka dijerat Pasal 197 jo Pasal 106 ayat (1) UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan denda paling banyak Rp1,5 miliar.


Editor : Donald Karouw