Ponsel dan Medsos Jadi Penyebab Utama Perceraian di Situbondo

Ihya' Ulumuddin, Riski Amirul Ahmad ยท Kamis, 06 Desember 2018 - 13:34 WIB
Ponsel dan Medsos Jadi Penyebab Utama Perceraian di Situbondo

Ilustrasi perceraian. (Foto: Okezone)

SURABAYA, iNews.id - Teknologi dan media sosial menjadi penyebab paling dominan kasus perceraian di Situbondo. Penyebab ini bahkan mengalahkan faktor ekonomi, penganiayaan dan perselisihan karena hadirnya pihak ketiga. 

Berdasarkan data di Pengadilan Agama Kabupaten Situbondo, dari 70 persen pemohon gugatan, lebih dari 30 persen mengaku ingin bercerai karena cekcok perihal ponsel dan media sosial. Sisanya karena perselingkuhan, ekonomi dan penganiayaan. 

"Ini memang unik. Banyak kasus, hanya gara-gara suami melarang istri memakai ponsel, istri menggugat cerai. Banyak juga yang gara-gara medsos, suami-istri cekcok, lantas menggugat cerai. Kami sudah lakukan mediasi. Tetapi mereka menolak dan tetap meminta jalan perceraian," kata salah seorang pengacara pendamping kasus perceraian, Jayadi, Kamis (6/12/2018).

Sementara itu, hingga November 2018, angka perceraian terus bertambah. Hingga saat ini sudah 1.545 kasus yang diputus cerai oleh Pengadilan Agama. Jumlah ini diprediksi terus bertambah karena banyak permohonan yang belum diproses. 

Panitera Muda Gugatan PA Situbondo, Dardiri, mengatakan, angka perceraian di tahun 2018 ini memang relatif turun. Kendati demikian, jumlahnya masih cukup tinggi mencapai ribuan. 

"Tahun lalu di bulan yang sama, hakim memutus cerai sebanyak 2.519 kasus. Sekarang 1.545 kasus. Tetapi, kemungkinan ini masih akan terus bertambah. Sebab banyak gugatan yang sudah masuk tetapi belum diproses. Tiap bulan, rata-rata ada 100 permohonan gugatan yang masuk," katanya.

Dari jumlah tersebut, pemohon gugatan masih banyak didominasi pihak istri, yang mencapai 70 persen. Kebanyakan mereka tidak sabar dan ingin segera mengakhiri rumah tangganya dengan berbagai alasan.


Editor : Himas Puspito Putra