Potensi Gempa M6,5 di Surabaya Tinggi, Pemkot Segera Evaluasi Tata Ruang Wilayah

Ihya' Ulumuddin · Kamis, 03 Oktober 2019 - 17:12 WIB
Potensi Gempa M6,5 di Surabaya Tinggi, Pemkot Segera Evaluasi Tata Ruang Wilayah

Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana memaparkan RTRW Kota Surabaya di kampus ITS, Kamis (3/10/2019). (Foto: iNews.id/Ihya’ Ulumuddin)

SURABAYA, iNews.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya segera mengevaluasi tata ruang dan wilayah (RT/RW) kota. Rencana tersebut dilakukan mengingat potensi gempa bumi yang tinggi di kota ini hingga kekuatan Magnitudo 6,5.

Pernyataan ini disampaikan Wakil Wali Kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana saat menghadiri Diseminasi SNI Bangunan Tahan Gempa dan Penelitan Gempa Kota Surabaya, di Auditorium Pusat Riset ITS Surabaya, Kamis (3/10/2019).

“Kita akan melakukan evaluasi kembali terhadap RT/RW Surabaya tahun 2022 mendatang. Ini mengingat hasil penelitian yang dilakukan harus diantisipasi mulai sekarang,” katanya.

BACA JUGA:

Peringatan 10 Tahun Gempa Sumbar M7,9, BNPB Ingatkan Warga Siap Siaga Hadapi Bahaya

Update Korban Gempa Ambon: 36 Tewas dan 95.256 Jiwa Mengungsi

Berdasarkan penelitian Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ITS pada 2017 lalu tercatat, kondisi Surabaya memang dilalui patahan aktif atau sesar. Hal tersebut berdampak pada potensi gempa mencapai Magnitudo 6,5, yakni di patahan Surabaya dan Waru. Termasuk di wilayah Surabaya Timur, sekitar kawasan kampus ITS, dan wilayah HR Muhammad di Surabaya Barat.

“Nanti akan ditetapkan untuk wilayah belum padat hunian sebagai ruang terbuka hujau (RTH). Sedangkan, wilayah yang sudah padat hunian akan ditetapkan standardisasi bangunan atau SNI terhadap gempa,” katanya.

Pemkot Surabaya akan memasukkan hasil penelitian ITS tentang potensi gempa dalam evaluasi RT/RW. “Kalau penelitan yang sudah dilakukan menggunakan APBN. Tahun depan akan kami support dengan APBD agar penelitiannya lebih dalam lagi,” katanya.

Sementara Kepala Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Pemukiman Rakyat (PUPR) Lukman Hakim yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan saat ini Indonesia sedang menghadapi tantangan bencana. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 2017, tercatat sekitar 2.341 kejadian gempa di beberapa wilayah.

“Kejadian ini mengakibatkan kerusakan cukup masif,” kata Lukman.

Sementara kejadian bencana alam berupa gempa bumi, banjir, dan karhutla yang berdampak pada korban manusia dan ekonomi tercatat sebanyak 2.572 kejadian selama 2018 lalu. Bencana alam tersebut termasuk kejadian bencana alam puting beliung, banjir, dan longsor.


Editor : Maria Christina