Predator Anak di Surabaya Dituntut Pidana Penjara, Kebiri Kimia dan Denda

Rahmat Ilyasan ยท Senin, 04 November 2019 - 22:06 WIB
Predator Anak di Surabaya Dituntut Pidana Penjara, Kebiri Kimia dan Denda

RSS menjalani sidang tuntutan secara tertutup di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (4/11/2019). (Foto: iNews.id/Rahmat Ilyasan)

SURABAYA, iNews.id – Seorang pembina Pramuka yang juga menjadi terdakwa kasus pencabulan 15 siswa laki-laki di bawah umur di Surabaya, Jawa Timur menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Tersangka dituntut hukuman 14 tahun penjara dan kebiri kimia selama tiga tahun serta denda Rp100 juta.

RSS (30), predator anak menjalani sidang tertutup di PN Surabaya, kawasan Jalan Arjuno, Senin (4/11/2019) siang. Dengan memakai rompi tahanan warna merah, laki-laki berkaca mata ini memasuki ruang sidang dengan pengawalan petugas.

Pendamping hukum para korban dari Surabaya Children Crisis Center (SCCC), Muhammad Dewangga Kahfi menilai tuntutan yang diterima terdakwa setimpal dengan perbuatannya. Tuntutan jaksa adil, lantaran korbannya banyak dan di bawah umur. Para korban juga anak didiknya sendiri.

“Sangat adil, ini korbannya banyak,” kata Dewangga usai persidangan.

BACA JUGA: Pembina Pramuka Cabuli 15 Siswanya di Surabaya Mengaku Dendam Pernah Jadi Korban

Sementara, Aspidum Kejati Jatim, Asep Mariono menyatakan, tuntutan hukuman kebiri yang dilayangkan sudah melalui beberapa pertimbangan. Salah satu yang memberatkan yakni terdakwa merupakan pendidik yang seharusnya mengayomi dan bukan melakukan tindakan asusila.

“Selain itu, korban lebih dari satu dan lagi masa depan para korban juga hancur. Selain itu menurut psikiater, ada korban yang nanti cenderung akan jadi pelaku,” katanya.

Maka dari itu pihaknya menuntut hukuman kebiri terhadap tersangka. Terkait beberapa dokter yang menolak melakukan hukumuan kebiri, menurutnya hal tersebut merupakan hak para dokter.

“Tapi manakala aturan mengenai pelaksanaan kebiri sudah ada, itulah prosedur yang harus dilaksanakan, terlepas dari setuju atau tidak,” katanya.

BACA JUGA: Pembina Pramuka di Surabaya Cabuli 15 Anak Didiknya, Modusnya Pembinaan Inti

Namun, dia mengakui sampai saat ini peraturan pelaksaan kebiri belum ada. Pelaksanaan kebiri akan dilaksanakan kalau pidana badan sudah dijalankan setelah jatuhnya putusan nanti.

RSS dijerat pasal 82 ayat 2 juncto pasal 76e UU RI no 17 tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU no 1 tahun 2016 tentang Perbuatan Kedua atas UU RI no 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi UU jo UU RI no 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU RI no 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan hukuman maksimal 14 tahun penjara.

Sebelumnya, RSS menggunakan modus pembentukan Tim Inti Pramuka untuk mencabuli 15 siswanya. Mereka dibujuk akan menjadi tim elit Pramuka sekolah jika mengikuti pembinaan tambahan khusus.

BACA JUGA: Guru Pramuka Cabuli 15 Siswa di Surabaya, Korban Diwajibkan Ikuti 7 Tahapan

Ada tujuh tahapan yang harus dilalui oleh calon anggota Tim Inti Pramuka ini. Tahap pertama, siswa telanjang bulat, kedua, pemeriksaan kejantanan dengan cara memegang atau meremas kemaluan korban, ketiga melakukan onani secara bergantian dan saling berpelukan.

Sedangkan tahap keempat, korban harus menginap dan tidur bersama tersangka dengan bertelanjang, dan tahap kelima saling sodomi. Sementara tahap keenam, tersangka dan korban melakukan oral seks secara bergantian.

Sebagai tahap penutup, seluruh calon anggota tim inti Pramuka harus makan ayam geprek pedas. Untuk mengikuti seluruh tahapan tersebut, para korban dipanggil secara bergilir ke rumah tersangka di kawasan Kecamatan Tegalsari.

Kasus ini terbongkar atas laporan orang tua korban. Hasil penyelidikan polisi, ada 15 anak siswa laki-laki tingkat SMP dan SD yang menjadi korban tindak asusila ini.


Editor : Umaya Khusniah