PWNU Jatim Perbolehkan Salam Lintas Agama, Ini Rujukan Kitabnya

Ihya' Ulumuddin · Selasa, 12 November 2019 - 19:23 WIB
PWNU Jatim Perbolehkan Salam Lintas Agama, Ini Rujukan Kitabnya

PWNU Jawa Timur menyampaikan hasil bahtsul masail (Pembahasan hukum melalui kajian ushul fikih) tentang mengucapkan salam lintas agama, Selasa (12/11/2019). (Foto: iNews.id/Ihya Ulumuddin)

SURABAYA, iNews.id – Hasil bahtsul masail Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur (Jatim), memperbolehkan salam lintas agama. Berbagai rujukan dipakai para kiai untuk memutuskan hukum salam campuran berbagai agama tersebut.

Beberapa referensi itu antara lain kitab Bariqotu Muhmudiyyah, yakni “Wafi aidon jawabus salam Alal kafir indal ikhtiyaz kama nuqila ala tajmis min jawazi khiinaidzin. “Jadi di dalam penjelasan karena kemaslahatan itu diperbolehkan salam kepada orang kafir ketika dibutuhkan,” kata Katib Syuriah PWNU Jatim KH Syafruddin Syarif, Selasa (12/11/2019).

Rujukan lain, Kitab Ashbakh Wannadhoir. Di dalam kitab ini, lanjut Syafrudin, seorang muslim bahkan diperbolehkan menggunakan tanda-tanda yang dipakai orang kafir, ketika ada kemaslahatan. “Falawittadhot Maslahatul Muslimin Ila Dzalik” ujarnya.

 

BACA JUGA: Berbeda dengan MUI Jatim, Ini Hukum Salam Lintas Agama Menurut PWNU

 

Selain rujukan tersebut, tim bahtsul masail juga menggunakan berbagai hadis sohih lain untuk menegaskan dibolehkannya salam lintas agama. “Jadi pembahasan ini tidak hanya dengan menggunakan akal pikiran saja, tetapi dengan pendapat-pendapat para ulama terdahulu,” katanya.

Syafrudin berharap penjelasan hasil bahtsul masail PWNU tersebut bisa menyelesaikan polemik nasional terkait penggunaan salam lintas agama. Sebab, saat ini tausiah MUI Jatim tersebut menimbulkan kebingungan dan polemik di masyarakat.

“Bila dia (pejabat publik) itu muslim hendaknya mengucapkan Assalamu’alaikum Warhmatullahi Wabarokatuh atau selamat pagi atau hal-hal yang menjadi salah nasional. Hanya kalau diperlukan untuk menjaga kedamaian kerukunan, maka memakai salam lintas agama,” katanya.

 

BACA JUGA: MUI Jatim Serukan kepada Umat Islam agar Ucapan Salam Pembuka Semua Agama Tak Dicampur

 

Diketahui, PWNU Jatim menggelar bahtsul masail menyusul polemik ‘larangan’ salam lintas agama yang dikeluarkan MUI Jatim. Dari hasil kajian fikih islam tersebut didapat beberapa kesimpulan.

Salah satunya, Islam sebagai agama kerahmatan selalu menebarkan pesan-pesan kedamaian di tengah manusia. Pesan kedamaian dalam wujud menebarkan salam secara verbal juga telah menjadi tradisi agama tauhid, sejak Nabi Adam AS yang terus diwarisi hingga sekarang.

“Huwa Sunnatu Adam Wadzurriyatii minal Anbiya’ wal Auliya’ (Mengucapkan salam secara verbal merupakan tradisi Nabi Adam AS dan keturunannya dari para nabi dan para wali),” kata KH Syafruddin.

Bahkan dikisahkan, dahulu, Nabi Ibrahim juga mengucapkan salam kepada ayahnya yang masih belum bertauhid. Begitu juga Nabi Muhammad SAW pernah mengucapkan salam kepada penyembah berhala dan segolongan Yahudi yang berkumpul bersama kaum muslimin.


Editor : Maria Christina