Rekonstruksi Balita Dibunuh Ayah Tiri di Malang, Korban Menangis Minta Ampun saat Diinjak

Deni Irwansyah ยท Jumat, 08 November 2019 - 08:55 WIB
Rekonstruksi Balita Dibunuh Ayah Tiri di Malang, Korban Menangis Minta Ampun saat Diinjak

Pelaku pembunuhan anak tiri, Ery Age Anwar, melakukan reka ulang adegan detik-detik saat dia menganiaya anak tirinya hingga tewas di Kota Malang, Jatim, Jumat (8/11/2019). (Foto: iNews/Deni Irwansyah)

MALANG, iNews.idRekonstruksi pembunuhan balita oleh ayah tiri di Kota Malang, Jawa Timur (Jatim), mengungkap fakta-fakta baru. Dalam 20 adegan saat reka ulang kejadian sadis itu, korban Agnes Arnelitasempat menangis meminta ampun sambil memandang pelaku Ery Age Anwar (36), saat perutnya diinjak.

Polres Malang Kota menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan tersebut di rumah kontrakan ayah tiri dan ibu kandung korban di Perumahan Tlogowaru Indah, Kedung Kandang, Kota Malang, Kamis sore (7/11/2019).

Rekonstruksi di tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan itu digelar di bawah pengawalan ketat polisi. Pasalnya, banyak warga dan keluarga korban yang menunggui di TKP, beberapa jam sebelum rekonstruksi digelar. Bahkan, saat mobil tahanan yang membawa tersangka tiba, warga yang menonton tampak geram dan meneriaki pelaku.

 

BACA JUGA:

Balita Perempuan di Malang Tewas Penuh Luka Lebam, Diduga Dianiaya Ayah Tiri

Balita Tewas di Malang, Polisi: Korban Diinjak Ayah Tiri di Perut dan Punggung

 

Dalam adegan keempat rekonstruksi, pelaku menggendong korban ke kamar mandi dan menginjak korban sebanyak tiga kali. Satu kali di perut dan dua kali di punggung. Korban pertama kali diinjak di bagian perut saat kondisinya telentang.

Ini membuktikan kebohongan baru tersangka yang awalnya mengaku pertama kali menginjak di bagian punggung korban, lalu di bagian perut. Saat itu, korban menangis memohon ampun karena merasa bersalah setelah buang air besar (BAB) di celana.

“Di situ kondisi awalnya terlentang. Sementara keterangan awal tersangka yang ada di berita acara, awalnya tengkurap. Tersangka menginjak perut korban sekali, kemudian saat itu korban miring ke kiri, kemudian diinjak kembali sebanyak dua kali dengan sekeras-kerasnya di punggung korban,” kata Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander.

Dony mengatakan, setelah diinjak, korban menggigil dan menangis. Pelaku kemudian membawa korban ke kamarnya dengan posisi masih menggigil. Dia melumuri tubuh korban dengan minyak telon.

Setelah itu, korban masih tetap mengggigil. Pelaku kemudian menggendong korban ke kamar sebelah dan meminumkan teh panas. “Setelah itu korban sudah mulai ngorok, digendong kembali, barulah dipanggang kaki korban di atas kompor,” katanya.

Korban akhirnya tewas setelah dianiaya oleh ayah tirinya. Injakan tersebut menyebabkan pendarahan di usus besar korban sehingga nyawa Agnes Arnelita tidak tertolong.

Donny juga mengatakan, Polres Malang membuat sebanyak 20 adegan sesuai dengan keterangan dari tersangka. Untuk adegan per adegan dalam rekonstruksi, tidak ada ibu kandung korban dari awal hingga akhir kejadian.

“Jadi, kami menyinkronkan keterangan tersangka dengan kejadian di TKP. Di sini sudah semakin jelas, untuk kejadian, dan juga beberapa adegan-adegan yang disesuaikan dengan berita acara,” katanya.

Sementara keluarga korban yang menyaksikan proses rekonstruksi mengaku geram karena tidak bisa mendekat dengan pelaku untuk melampiaskan kemarahannya. Keluarga kini hanya berharap pelaku menerima hukuman seberat-beratnya, setimpal dengan tindakan sadis terhadap korban.

“Keluarga kecewa banget, ini enggak adil. Yang dianiaya masih anak kecil. Kami berharap pelaku dihukum seberat-beratnya, dihukum mati,” kata paman korban, Rendra.

Diketahui, pelaku sebelumnya sempat mengaku kepada keluarga bahwa korban meninggal dunia akibat tenggelam di kamar mandi. Namun, melihat ada luka pada tubuh korban, keluarga meminta agar jasad Anes diautopsi.


Editor : Maria Christina