Riset Universitas Brawijaya, Permukaan Tanah Malang Raya Turun 3 Meter

Antara ยท Sabtu, 13 Oktober 2018 - 13:22 WIB
Riset Universitas Brawijaya, Permukaan Tanah Malang Raya Turun 3 Meter

Ketua Grup Riset Geoinformatika Filkom UB Malang Fatwa Ramdani saat menunjukkan hasil risetnya. (Foto: Istimewa)

MALANG, iNews.id – Fenomena alam turunnya permukaan muka tanah terjadi di wilayah Malang Raya. Dalam kurun waktu tiga tahun, permukaan tanah mengalami penurunan cukup signifikan hampir tiga meter. Hasil ini berdasarkan analisis Grup Riset Geoinformatika, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (Filkom UB) Malang.

Ketua Grup Riset Geoinformatika Filkom UB Malang Fatwa Ramdani mengatakan, pihaknya telah menganalisis pergerakan vertikal dari wilayah Malang Raya dan sekitarnya berbasis data satelit radar (Sentinel-1) milik Uni Eropa.

“Berdasarkan hasil analisa tersebut, wilayah Malang Raya, Jawa Timur, mengalami penurunan muka tanah yang signifikan dalam kurun waktu 3 tahun terakhir ini (2015-2018)," ujar Fatwa Ramdani, Sabtu (13/10/2018).


BACA JUGA:

Bencana Gempa, Sumenep Tetapkan Masa Tanggap Darurat 14 Hari

Gempa 5,6 SR Guncang Bitung, Getaran Terasa hingga Tondano dan Manado


Dia mengemukakan, data yang dikumpulkan merupakan data dalam periode tiga tahun terakhir. Pendekatan Differensial Interferogram Synthetic Aperture Radar (DinSAR) dilakukan untuk mendapatkan informasi perubahan secara vertikal dari permukaan muka tanah.

Hasil riset menunjukkan, wilayah Malang Raya Selatan dan sekitarnya mengalami penurunan muka tanah yang signifikan dalam 3 tahun, yakni hampir tiga meter. Untuk wilayah tengah dan utara tidak mengalami perubahan yang signifikan. Namun, sebaliknya wilayah paling utara, seperti Surabaya dan Pulau Madura mengalami kenaikan muka tanah sekitar 30 cm.

Sementara itu, aktivitas lempeng Australia yang terus bergerak mendorong ke arah utara menuju selatan Pulau Jawa bergerak sekitar 71 mm per tahun. Ini terlihat kecil, namun dampaknya ternyata sangat besar pada penurunan muka tanah.

“Data ini bisa ditunjukkan ke  masyarakat di wilayah Malang Raya Selatan dan sekitarnya. Jadi masyarakat di wilayah ini perlu mempertimbangkan struktur bangunan yang tahan terhadap perubahan penurunan muka tanah yang signifikan, agar ketika terjadi bencana, kerugian materil maupun non-materil bisa diminimalisasi,” katanya.

Sementara itu, wilayah tengah dan utara Malang Raya, juga perlu diperhatikan, terutama aspek lingkungan. Sebab, pertumbuhan yang tidak terkontrol bisa mendatangkan bencana, seperti banjir dan longsor pada musim penghujan. Bahkan berdasarkan analisis sementara, selama 20 tahun terakhir Kota Malang dan Kota Batu mengalami pertumbuhan yang sangat cepat.

Oleh karenanya, bencana yang terjadi beberapa waktu lalu harus menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Tujuannya, agar tidak lagi banyak korban jiwa dan kerugian material yang besar dari masyarakat. "Edukasi terhadap literasi bencana juga perlu dilakukan secara terintegrasi. Semua pihak harus memberikan kontribusi positif," tuturnya.


Editor : Donald Karouw