Siswa Asal Kediri Ini Terbang ke Amerika Gara-gara Daun Sengon dan Cabai

Felldy Utama ยท Kamis, 06 Juni 2019 - 11:20 WIB
Siswa Asal Kediri Ini Terbang ke Amerika Gara-gara Daun Sengon dan Cabai

Siswa MTs Negeri 2 Kediri, Jawa Timur Safina Amelia Khansa berkesempatan belajar di Amerika Serikat setelah meneliti daun sengon dan cabai sebagai pengganti karbit. (Foto: Istimewa).

JAKARTA, iNews.id, - Namanya Safina Amelia Khansa. Siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Kediri, Jawa Timur ini belum lama pulang dari belajar di Amerika Serikat. Safina mendapat kesempatan mengikuti pembelajaran di Negeri Paman Sam itu ternyata gara-gara daun sengon dan cabai. Bagaimana bisa?

Bagi sebagian orang, daun sengon dan cabai mungkin barang sepele dan tak banyak dimanfaatkan. Lazimnya, sengon lebih banyak diambil kayunya, dan tanaman cabai sering dipanen buahnya.

Ini berbeda dengan Safina yang justru banyak mendapat manfaat dari daun dua tanaman itu. Berawal dari melihat kebiasan kakek dan neneknya memanfaatkan daun tersebut untuk mempercepat pematangan buah pisang, muncul ketertarikannya untuk melakukan penelitian.

“Mereka menggunakan daun sengon dan cabai sebagai pengganti karbit untuk mempercepat pematangan buah pisang,” kata Safina, dikutip dari laman resmi Kementerian Agama, Jakarta, Kamis (6/6/2019).

Safina Amelia Khansa bersama gurunya saat berkunjung di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, belum lama ini. (Foto: Istimewa).

Dari situ, dia mencari informasi dari berbagai jurnal. Hasil penelusurannya, ternyata belum ada yang melakukan penelitian itu. ”Dan dari situ pula saya mencoba melakukan penelitian terhadap ini secara ilmiah,” kata dia.

Penelitian tentang daun sengon dan cabai Safina itu akhirnya diganjar penghargaan dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2018.

Dia menjadi salah satu dari 14 finalis Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-50 yang diselenggarakan LIPI. Dari bidang ilmu pengetahuan hayati, Safina satu-satunya dari kategori MTs/SMP atau sederajat.

Atas capaian ini, dia pun diberi kesempatan berangkat ke Arizona Amerika. Sepekan di Arizona, 12 – 19 Mei 2019, Safina mengikuti Broadcom Master International Program di Phoenix Arizona Amerika Serikat.

“Dulu saya bercita-cita menjadi polisi, tapi setelah saya mengenal dunia sains di Amerika, saya kepingin jadi ilmuwan saja di sana. Ingin mengembangkan penelitian di sana dan pokoknya saya harus ke luar negeri kalau kuliah,” ujarnya, saat di kantor Humas Kemenag.

Safina mengaku mendapatkan pengalaman yang tidak mungkin dilupakan saat berkumpul bersama 27 orang delegasi dari 18 negara. Mereka diajak mengunjungi Arizona State University, salah satu universitas sains terbaik di Amerika.

Di tempat itu para siswa dikenalkan dengan solar system, robot –dan lainnya. Selain itu para peserta diajak ke Botanical Garden untuk mempelajari tentang ragam Kaktus yang paling tua, dari seluruh dunia.

”Termasuk ke museum-museum untuk mempelajari tentang kultur Amerika, dari mulai pakaian, rumah, sampai adat-istiadat. Kita juga ke MIM (museum instrument music), di dalamnya dapat ditemukan alat musik dari seluruh dunia, termasuk dari Indonesia,” ujarnya.


Editor : Zen Teguh