Sungai Bengawan Solo Meluap, Petani di Bojonegoro Gagal Panen

Ihya' Ulumuddin, Dedi Mahdi ยท Rabu, 24 Januari 2018 - 13:45 WIB
Sungai Bengawan Solo Meluap, Petani di Bojonegoro Gagal Panen

Luapan Sungai Bengawan Solo membuat ratusan hektare sawah di Kabupaten Bojonegoro terendam banjir. (Foto: iNews/Dedi Mahdi)

BOJONEGORO, iNews.id – Ratusan hektar tanaman padi di Kecamatan Kanor dan Baureno Kabupaten Bojonegoro terendam banjir. Akibatnya para petani terpaksa memanen padi lebih awal. Langkah ini diambil karena tanaman padi bisa busuk dan tidak bisa dimanfaatkan.

Pantauan iNews di lapangan, banjir terjadi akibat luapan air Sungai Bengawan Solo yang melintas di wilayah Bojonegoro sejak Selasa 23 Januari 2018 malam. Intesitas hujan  yang cukup tinggi sejak beberapa hari terakhir membuat air Bengawan Solo meluap dan tumpah ke lahan pertanian di sekitar sungai.

“Sudah dua hari ini air Bengawan Solo meluap dan membanjiri lahan pertanian. Karena tak kunjung surut, tarpaksa kami panen. Sebab kalau dibiarkan justru tambah busuk. Padahal mestinya masih satu bulan lagi,” kata Sujito salah seorang petani di Kecamatan Kanor, Rabu (24/1/2018).

Ya, di usia tersebut, tanaman padi masih berada dalam tahap generatif pertama. Atau masih dalam tahap pematangan susu (setengah matang). Sehingga buah belum sepenuhnya terisi dan mengeras. Butuh waktu kurang lebih satu bulan lagi, hingga padi benar-benar matang dan siap dipanen.

“Karena belum waktunya, ya hasilnya tidak seberapa. Kalau dihitung, hanya 30% yang bisa dipanen. Sisanya (70%) hilang. Tapi ya bagaimana lagi. Yang penting masih bisa membawa pulang, meski tidak seberapa,” ujar Sujito berbesar hati.

Sujito mengatakan, untuk 1 hektare (Ha) lahan padi, biasanya dia bisa menghasilkan dua ton gabah. Namun, pada kondisi banjir seperti ini, hasil 5 kwintal saja sudah cukup bagus. “Tapi kelihatannya tidak sampai segitu. Wong, masih banyak yang kosong (buah belum terisi penuh),” ujarnya.

Tak hanya itu, kerugian petani juga bisa berlipat karena harga gabah juga turun drastis sejak masa tanam awal bulan lalu. Sujito mengatakan, saat ini harga gabah hanya Rp4500 per kilogram. Padahal sebelumnya mencapai Rp5200 per kilogram. Hasil ini, kata Sujito, tentu tidak sebanding dengan biaya operasional selama masa tanam.

Kendati demikian, Sujito hanya bisa pasrah sambil berharap banjir segera surut. Sehingga dia bisa kembali bercocok tanam, mengganti panen gagal akibat banjir ini. “Mugi-mugi mawon banjire leren. Ben saget tanam maleh (Mudah-mudahan banjir berhenti, biar bisa tanam lagi,” ucapnya.

Untuk diketahui, selain intensitas hujan yang cukup tinggi sejak sepekan terakhir. Luapan air di Sungai Bengawan Solo juga akibat kiriman dari wilayah hulu sungai.


Editor : Himas Puspito Putra