Unej Ungkap Alasan Mencopot Ketua LP3M, Hasil Penelitian Itu Bersifat Rahasia

Bambang Sugiarto · Kamis, 28 November 2019 - 16:50 WIB
Unej Ungkap Alasan Mencopot Ketua LP3M, Hasil Penelitian Itu Bersifat Rahasia

Gerbang masuk kampus Universitas Jember. (Foto: iNews/Bambang Sugiarto)

JEMBER, iNews.id - Universitas Jember (Unej) akhirnya angkat bicara mengenai alasan pihak kampus mencopot Ketua Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M), Akhmad Taufiq. Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) tersebut dinilai melanggar sumpah jabatan.

Kepala Humas Unej, Agung Purwanto mengatakan, pertimbangannya masalah kedisiplinan dan dugaan pelanggaran sumpah jabatan. Menurutnya, ada kegiatan penelitian yang sifatnya rahasia, malah disampaikan ke publik.

"Malah diekspose ke publik dengan menyebut bahwa ribuan mahasiswa di Unej terpapar radikalisme," Kepala Humas Unej, Agung Purwanto, kepada iNews di Kampus Unej, Kabupaten Jember, Jawa Timur (Jatim), Kamis (28/11/2019).

Selain itu, LP3M Unej diberi amanah untuk melakukan penanggulangan benih-benih radikalisme. Jadi apa yang dilakukan Taufiq dinilai menyalahi aturan, karena sepatutnya dia dapat menangkal paham tersebut tersebar luas.

BACA JUGA: Ungkap 22 Persen Mahasiswa Unej Jember Terpapar Radikalisme, Ketua LP3M Dicopot

Hal ini menunjukkan bahwa Ketua LP3M Taufiq tidak mampu mengemban amanah untuk menanggulangi paham radikal di kalangan mahasiswa. Karena itulah, jabatan yang bersangkutan kemudian digantikan oleh Bambang Sujanarko, yang juga menjadi dosen di Fakultas Teknik Unej.

"Harusnya ditangkal dan dikurangi. Justru malah diekspose ke publik," ujar dia.

Sebelumnya, Taufiq yang merupakan dosen FKIP Unej diundang menjadi narasumber di sebuah kegiatan diskusi bertatjuk "Strategi Pencegahan Intoleransi, Radikalisme, dan Kekerasan Esktremisme di Dunia Pendidikan dan Media Sosial" pada pekan lalu. Di sanalah dia membuka hasil penelitiannya ke publik.

Berdasarkan penelitiannya dengan memberikan quisioner kepada 15 ribu lebih mahasiswa Unej, sekitar 22 persen dinilai terpapar paham menyimpang tersebut. Dia menyebut, benih-benih radikal memang tumbuh di lingkungan kampus tempatnya bekerja saat itu.


Editor : Andi Mohammad Ikhbal