Unjuk Rasa di Surabaya, Massa Desak Konjen Australia Pulangkan Veronica Koman

Ihya' Ulumuddin ยท Jumat, 13 September 2019 - 20:16 WIB
Unjuk Rasa di Surabaya, Massa Desak Konjen Australia Pulangkan Veronica Koman

Aksi demo massa di Surabaya yang meminta Konjen Austraslia memulangkan Veronica Koman ke Indonesia. (Foto: iNews.id/Ihya Ulumuddin)

SURABAYA, iNews.id – Ratusan warga mendatangi Konjen Australia di Jalan MERR Surabaya, Jumat (13/9/2019) sore. Massa dari elemen Jaringan Satu Indonsia (JSI) dan Forum Komunikasi Pemuda Nusantara ini berujuk rasa dan meminta Konjen Australia untuk memulangkan tersangka Veronica Koman.

Koordinator Aksi Sahidin mengatakan, Veronica Koman saat ini berada di Australia. Karena itu, Pemerintah Australia harus ikut terlibat memulangkannya ke Indonesia.

“Konjen Australia di Surabaya harus turun tangan. Sampaikan ke Pemerintah Australia agar memulangkan VK (Veronica Koman) untuk mempertanggungjawabkan status hukumnya. Sebab dia sudah ditetapkan sebagai tersangka,” kata Sahidin, Jumat (13/9/2019).


BACA JUGA:

Polisi: Veronica Koman Sering Tarik Uang dari 6 Rekening, termasuk saat di Papua

Polisi Temukan Ada Aliran Dana Besar Masuk ke Rekening Bank Veronica Koman


Dia mengungkapkan, polemik Papua harus diakhiri. Semua yang terlibat harus bertanggung jawab. Sebab jika tidak, dikhawatirkan kasus serupa akan terjadi lagi.


Sahidin menilai, Veronica sengaja berulah untuk mencari panggung di dunia internasional. Dia sengaja memanfaatkan isu HAM, khususnya Papua sebagai obyek. Caranya melempar isu tersebut kepada publik.

“VK mengaku sebagai aktivis HAM. Tetapi pernyataan dan langkah-langkah yang dia lakukan bukan meredam permasalahan, namun justru makin memperkeruh suasana. Dia salah satu aktor penyulut kerusuhan di Papua. Dia mengadu domba masyarakat antardaerah, terutama melalui media sosial,” katanya.

Karena  itu, massa mendesak Konjen Autralia untuk berani ambil sikap tegas terkait kasus pelanggaran hukum Veronica.

“VK harus segera kembali ke Indonesia dan mengikuti proses hukum di Indonesia,” tuturnya.


Editor : Donald Karouw