Bea Cukai Kalsel Amankan Ribuan Rokok Ilegal, Negara Rugi Rp500 Miliar

Suhardian ยท Rabu, 04 April 2018 - 18:31 WIB
Bea Cukai Kalsel Amankan Ribuan Rokok Ilegal, Negara Rugi Rp500 Miliar

Ribuan batang rokok tanpa cukai yang masuk wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) berhasil digagalkan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tipe Madya Pabean B Banjarmasin. (Foto: iNews.id/Suhardian)

BANJARMASIN, iNews.id - Ribuan batang rokok tanpa cukai yang masuk wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) berhasil digagalkan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tipe Madya Pabean B Banjarmasin. Potensi kerugian yang diderita negara akibat rokok ilegal tersebut mencapai setengah triliun rupiah.

Rokok tanpa cukai tersebut berasal dari Pulau Jawa masuk ke Kalsel melalui jasa ekspedisi. Kebanyakan rokok ilegal tersebut diperuntukan bagi para pekerja di perkebunan sawit.

Kapala Bidang Penindakan Kanwil Bea Cukai Kalsel Rahmad Effendi mengatakan, para pekerja sawit yang mayoritas perokok sangat memerlukan asupan rokok-rokok ilegal tersebut mengingat harga yang ekonomis. Dia menambahkan, petugas berhasil meringkus tiga pelaku yang diduga sebagai pemilik rokok tak bercukai tersebut.

"Rokok ilegal diperuntukan untuk para pekerja yang butuh rokok murah," kata Effendi, di Banjarmasin, rabu (4/4/2018).

Kebutuhan akan rokok murah, kata dia, dimanfaatkan sejumlah pihak untuk mengeruk untung dengan menyuplai rokok tanpa cukai. Di sisi lain, rokok ilegal yang dibandrol murah digemari para pekerja sawit atau pun masyarakat sekitar.



"Market ini yang dimanfaatkan oleh orang-orang yang menjalankan bisnis ilegal ini karena melihat peluang pasar," ucapnya.

Effendi menerangkan, petugas Bea Cukai Kalsel berhasil mengamankan ribuan batang rokok tanpa cukai. Ditaksir negara merugi hingga Rp500 miliar. Dia menambahkan, rokok ilegal tersebar merata di wilayah perkotaan hingga pedesaan. Ketiga pelaku diancam hukuman lima tahun penjara akibat kejahatan yang dilakukan. Mereka dijerat Pasal 54 dan 56 Undang-Undang Cukai Nomor 39 tahun 2007.

"Ditanya peredaran, di kota ada dan mungkin di pelosok lebih banyak lagi," ujarnya.


Editor : Achmad Syukron Fadillah