Kasus Tumpahan Minyak di Teluk Balikpapan, Ini Daftar yang Terdampak

Donald Karouw ยท Kamis, 05 April 2018 - 15:47 WIB
Kasus Tumpahan Minyak di Teluk Balikpapan, Ini Daftar yang Terdampak

Kondisi pencemaran akibat tumpahan minyak di Teluk Balikpapan. Tampak petugas saat membersihkan minyak tersebut. (Foto: BNPB)

BALIKPAPAN, iNews – Kasus tumpah minyak mentah di Teluk Balikpapan terus menjadi sorotan publik. Setelah sebelumnya terungkap asal muasal minyak yang ternyata bersumber dari pipa milik Pertamina yang terputus. Saat ini penanganan untuk memetakan dampak dan upaya penanggulangannya menjadi prioritas utama.

Berdasarkan data tim penanganan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI, merumuskan sejumlah poin penting mengenai dampak luasan di perairan maupun terhadap alam sekitar, biota laut, dan masyarakat sekitar.

Hasil peninjauan sementara, pertama, luasan areal terdampak tumpahan minyak diperkirakan mencapai 7.000 hektare, dengan panjang pantai di pesisir Kota Balikpapan hingga Kabupaten Penajam Pasir Utara, yang berjarak 60 kilometer.


Kedua, ekosistem terdampak yakni tanaman mangrove sekitar 34 hektare di Kelurahan Kariaungau, serta mencemari 8.000 bibit mangrove warga Kampung Atas Air Margasari.

Ketiga, pencemaran akibat tumpahan minyak menyebabkan matinya sejumlah biota laut jenis kepiting di Pantai Banua Patra. Keempat, terpaparnya warga di permukiman setempat yang pusing dan mual akibat mengirup minyak mentah tersebut. Kelima, dampak atas korban jiwa sebanyak lima orang atas peristiwa tersebut hingga lumpuhnya rutinitas warga setempat, serta dampak lainnya.

Penanganan dan penanggulangan peristiwa tumpahan minyak itu dilakukan tim yang terdiri atas perwakilan Dijen Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Ditjen Penegakan Hukum, Pusat Pengendalian pembangunan Ekoregion Kalimantan (P3EK), Balai KSDA Provinsi Kaltim unit Balikpapan, Dinas LHK Kota Balikapapan, dan Balai Pengelola Sumber Daya Pesisir Laut Pontianak Satker Balikpapan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).


“Tim penanganan ini bertujuan untuk menetapkan titik koordinat batas terluar area terdampak tumpahan minyak, pengamatan langsung ekosistem dan biota laut, wawancara warga setempat untuk menggali informasi, khususnya dampak kerugian ekonomi dan kesehatan,” kata Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Kalimantan (P3EK) KLHK Tri Bangun Laksana, Kamis (5/4/2018).

Diketahui, dalam konferensi pers sebelumnya telah terungkap, tumpahan itu berasal dari minyak mentah (crude oil), yang berasal dari Terminal Lawe-Lawe ke fasilitas Refineerry yang tumah akibat putusnya pipa distribusi. Putusnya pipa bukan disebabkan operasional Pertamina dan pihak mereka akan menuntaskan pembersihan tumpahan minyak tersebut.

Upaya penanggulan bagi masyarakat sekitar juga telah dilakukan, yakni dengan membagikan masker. Penanggulangan lain dengan mengamankan minyak melalui oil boom dan membawanya ke pinggir pantai untuk kemudian diberi dispersant yang berfungsi menetralisir ceceran minyak.


Polri melalui Ditreskrimsus Polda Kaltim menerapkan Pasal 99 Ayat 1, 2, 3 Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lingkungan Hidup, untuk menjerat para pelaku pencemaran di Teluk Balikpapan. Posisi KLHK juga akan mengajukan ganti rugi masyarakat dan tuntutan perdata.


Editor : Donald Karouw