Ma'ruf Disambut Adat Dayak dan Digelari Pemimpin Bijak di Samarinda

Kastolani · Jumat, 22 Maret 2019 - 12:26 WIB
Ma'ruf Disambut Adat Dayak dan Digelari Pemimpin Bijak di Samarinda

Cawapres KH Ma’ruf Amin disambut dengan adat Dayak dan diberi gelar pui pamboq bioq puyan yang berarti pemimpin bijaksana di Ponpes Nabil Husein, Samarinda, Kaltim, Jumat (22/03) pagi. (Foto: IST)

SAMARINDA, iNews.id – Calon Wakil Presiden (Cawapres) Nomor Urut 01 KH Ma’ruf Amin mengunjungi Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), Jumat (22/03) pagi. Kedatangannya di Pondok Pesantren (Ponpes) Nabil Husein disambut dengan adat Dayak serta diberi gelar pui pamboq bioq puyan yang berarti pemimpin bijaksana.

Kiai Maruf Amin datang beserta istrinya, Nyai Wury Estu Handayani yang langsung dipakaikan dengan baju adat dayat oleh Ketua Umum Adat Dayak Dayat Edi Gunawan Arek. Baju adat itu merupakan simbol pemberian gelar adat Dayak.

Hadir dalam acara silahturahim tersebut di antaranya Pimpinan Pondok Pesantren Nabil Husein KH Nasikhin, Ketua Umum Dewan Adat, Ketua TKD Kaltim Syafarudin, pengurus PWNU Kaltim, pengurus PCNU Samarinda dan masyarakat adat Dayak.

“Pagi hari ini saya merasa berbahagia bisa bersilaturahmi di Ponpes Nabil Husein,” kata Ma’ruf Amin.

BACA JUGA:

Cawapres Ma'ruf Amin Dorong Pelaku Usaha Gerakkan Ekonomi Umat

Ma'ruf Amin Optimistis Rebut 70 Persen Suara di Bengkulu

Ma’ruf menuturkan, pondok pesantren dalam sistem kenegaraan memiliki peran yang sangat penting. Di dalam pesantren, para santri diajarkan dalam mengawal negara, selain mempelajari kitab kuning.

“Masyarakat harus mengirimkan anaknya ke pesantren supaya menjadi penerus ulama,” ujarnya.

Ma’ruf juga menyampaikan, tanggung jawab ulama secara personal dengan menyiapkan para santri untuk menjadi pemimpin di masa depan. Para ulama juga memiliki tanggungjawab secara luas untuk menjaga umat dan menjaga kebangsaan.

"Mudah-mudahan pertemuan ini memberikan rahmat kepada kita semua,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Adat Dayak Kaltim, Edy Gunawan Areq Lung menuturkan, gelar adat Dayak tersebut memiliki arti seorang pemimpin yang diteladani karena Kiai Ma’ruf menjadi panutan masyarakat. Gelar adat tersebut diberikan kepada Ma’ruf Amin karena Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu dinilai merupakan seorang kiai yang bijak.

“Kiai Ma’ruf Amin ini seorang kiai yang bijak, maka kami beri gelar adat Dayak tersebut," kata Edy Gunawan Areq Lung.


Editor : Maria Christina