Warga Kepung Bandara Palu, 4 Pesawat TNI Tertahan di Lanud Balikpapan

Mukmin Azis ยท Senin, 01 Oktober 2018 - 17:36 WIB
Warga Kepung Bandara Palu, 4 Pesawat TNI Tertahan di Lanud Balikpapan

Pesawat masih tertahan di Lanud Dhomber Balikpapan, Kaltim, karena kondisi Bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu yang belum kondusif, Senin (1/10/2018). (Foto: iNews/Mukmin Azis)

BALIKPAPAN, iNews.id – Empat pesawat militer milik TNI Angkatan Udara (AU), tertahan di base operation Pangkalan Udara (Lanud) TNI Dhomber, Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), Senin siang (1/20/2018). Keempat pesawat tersebut batal diberangkatkan ke Bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), lantaran suasana di bandara tersebut masih belum kondusif dan penuh dengan warga.

Pesawat tersebut terdiri atas tiga pesawat tipe CN 295 dan satu pesawat Boeing 737. Seluruh pesawat dilibatkan dalam misi kemanusiaan pascagempa bumi dan tsunami yang terjadi di Palu dan Kabupaten Donggala, Sulteng.

Salah satu pesawat yang tertahan, tipe CN 295 tampak parkir di base operation TNI AU Balikpapan, Kaltim, Senin siang. Pesawat milik Skuadron 5 Makassar ini terbang dari Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta dan rencananya mengangkut para relawan dan keluarga korban menuju Bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu. Pesawa itu juga memuat berbagai bantuan logistik yang akan didistribusikan bagi para korban gempa di Palu dan Donggala.

BACA JUGA:

Bandara Palu Penuh, Menhub Imbau Masyarakat Gunakan Jalur Laut

BNPB Sebut Kendaraan Logistik Bantuan Gempa Palu Dicegat Warga Sulbar

Selain itu, satu pesawat militer jenis Boeing 737 juga batal diberangkatkan menuju Palu karena alasan serupa. Kini, pesawat militer TNI tersebut masih menunggu kabar dan instruksi lebih lanjut sebelum bisa kembali melanjutkan penerbangan menuju Bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu.

Komandan Skuadron 5 Makassar Letkol Pnb Hilman mengatakan, pihaknya masih menunggu hingga kondisi Bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu bisa dilalui. Informasi yang dia peroleh, kondisi apron masih terbatas.

“Katanya sudah dibuka perjalanan sipil, sehingga apronnya terbatas. Saya tidak tahu persis situasinya bisa jadi karena penuh dengan pesawat atau yang lainnya sehingga harus diatur sedemikian rupa sehingga lalu lintas pesawat bisa bergantian dengan yang lain karena cara masuknya cuma satu arah nanti kalau banyak yang holding di atas malah susah,” papar Hilman.


Editor : Maria Christina