Kabel Serat Optik yang Dicuri di Perairan Berakit Bintan Capai 12 Ton

Gusti Yennosa · Senin, 28 Mei 2018 - 22:45 WIB
Kabel Serat Optik yang Dicuri di Perairan Berakit Bintan Capai 12 Ton

Barang bukti kabel serat optik yang disita dari KM Topan Ocean. Kabel ini diduga dicuri dari bawah laut perairan Tanjung Berakit, Bintan, Kepri, Sabtu (28/5/2018). (Foto: iNews/Gusti Yennosa)

BINTAN, iNews.id – Badan Keamanan Laut (Bakamla) memperkirakan kabel serat optik yang dicuri KM Topan Ocean dari bawah laut di Perairan Tanjung Berakit, Bintan, Kepulauan Riau, mencapai 12 ton. Bakamla bekerja sama dengan Polda Riau dan pihak-pihak terkait juga masih menyelidiki motif pencurian kabel tersebut.

Kepala Bakamla RI, Laksamana Madya Arie Soedewo mengatakan, jumlah ini jauh lebih banyak dari pemeriksaan awal kabel serat optik yang berada di palka KM Topan Ocean pada Sabtu (26/5/2018). Berat kabel sebelumnya diperkirakan mencapai 5 ton.

“Jadi hasil perkiraan kemarin, itu ternyata bukan 5 ton, tapi ternyata sekitar 12 ton. Ini kabel serat optik untuk jaringan komunikasi Telkom, dan segala macam,” kata Arie saat penghitungan berat kabel yang juga disaksikan Kepala Kantor Kamla Zona Maritim Barat Bakamla Laksma TNI Eko Murwanto dan Komandan KN Belut Laut 4806 AKBP Capt Nyoto Saptono.

BACA JUGA: Curi Kabel Bawah Laut, KM Topan Ocean Diamankan Petugas Bakamla

Dalam mekanisme penghitungannya, aparat KN Belut Laut mengeluarkan sebagian kabel optik sebanyak 320 potong. Panjang tiap potong kurang lebih 4 meter dan berat per potong diperkirakan sekitar 15 kg. Dari penghitungan tersebut, diperkirakan panjang seluruh kabel mencapai 3.200 meter dan beratnya mencapai 12 ton. Selain itu ditemukan pula repeater sebanyak empat unit.

Berat barang bukti ini akan dipastikan lebih lanjut melalui penghitungan saat serah terima dengan Polda Kepri. Untuk mengetahui motif dan pelaku pencurian kabel optik, Bakamla akan bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika, Pushidrosal, dan Asosiasi Jaringan Kabel.

“Cara pengambilan kabel serat optik ini tradisional. Dia nyelam, diambil garu, terus ditarik ke atas permukaan air untuk dipotong sekitar 4 meter, dipotong sehingga terkumpullah sekitar 3.200 meter. Karena ini juga masih merupakan case baru, kami butuh para penyidik dan multikorporasi sehingga dapat diketahui motivasinya, apakah sekadar pencurian atau ada unsur-unsur lain. Ini yang perlu didalami,” paparnya. 

Direktur Operasi Laut Bakamla Laksma TNI Rahmat Eko Rahardjo mengatakan, Bakamla berperan untuk mengawasi kapal-kapal yang berlabuh jangkar di area kabel laut dengan menggunakan system monitoring. Bakamlamelaksanakan patroli di area kabel laut serta melakukan pencegahan dan penindakan terhadap segala bentuk tindakan perusakan kabel laut, baik secara sengaja berupa pencurian ataupun tidak sengaja yang disebabkan jangkar kapal.

KN Belut Laut 4806 Badan Keamanan Laut (Bakamla) dikomandani AKBP Capt Nyoto Saptono menangkap KM Topan Ocean yang diduga mencuri kabel serat optik dari bawah laut di perairan sebelah utara Tanjung Berakit, Bintan, Kepulauan Riau, Sabtu (26/5/2018). Petugas juga mengamankan delapan tersangka.

Kabel laut sudah digunakan operator telekomunikasi di Indonesia sejak era 90-an untuk menghubungkan pulau-pulau Nusantara karena memiliki banyak keuntungan dibandingkan menggunakan Digital Micro Wave yang memiliki keterbatasan pada bandwith. Kabel serat optik semakin banyak digunakan baik di darat maupun laut.

Namun, selama beberapa tahun terakhir pemerintah, pemilik jaringan dan masyarakat mengalami banyak kerugian akibat kerusakan kabel optik. Penyebabnya antara lain jangkar kapal-kapal yang berlabuh di area pelabuhan dan akibat jaring trawl kapal ikan. Selain itu, karena pencurian oleh pihak tidak bertanggung jawab yang tergiur dengan kandungan tembaganya yang bernilai ekonomis tinggi, maupun karena bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami yang mengakibatkan perubahan kontur dasar laut.


Editor : Maria Christina