Gelombang Tinggi, Nelayan di Bintan Kepri Sebulan Tak Melaut

Antara ยท Minggu, 04 Agustus 2019 - 02:08 WIB
Gelombang Tinggi, Nelayan di Bintan Kepri Sebulan Tak Melaut

Kapal nelayan parkir di pantai karena ancaman gelombang tinggi membuat mereka urung melaut. (Foto: Dok iNews)

BINTAN, iNews.id - Nelayan di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau (Kepri), sudah sebulan terakhir ini tidak bisa melaut karena ancaman gelombang tinggi di daerah tersebut. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.

Ketua Komite Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Bintan, Buyung Syukur Harianto mengatakan, ketinggian gelombang di perairan Bintan mencapai tiga meter. Karena itu, nelayan memilih tidak melaut ketimbang memaksakan diri.

"Diperkirakan dua minggu ke depan nelayan baru bisa melaut. Itu pun kalau cuaca sudah mulai kondusif," kata Buyung kepada wartawan di Kabupaten Bintan, Kepri, Sabtu (3/8/2019).


BACA JUGA: Gelombang Tinggi Terjang Pesisir Kulonprogo, Nelayan dan Pemancing Ikan Tiarap


Buyung mengatakan, selama tidak melaut para nelayan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Mereka tidak punya pilihan lain, karena satu-satunya sumber mata pencaharian yakni dengan menangkap ikan.

Namun, para nelayan diimbau untuk memanfaatkan momen ini untuk menyiapkan keperluan-keperluan melaut nantinya. Misal, memperbaiki alat tangkap ikan yang rusak, jadi ada kegiatan positif selama tidak melaut.

"Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama tidak turun ke laut, nelayan terpaksa meminjam uang kepada tauke, tempat biasa mereka menjual hasil tangkapan," ujarnya.


BACA JUGA: Peringatan Dini BMKG Potensi Gelombang Tinggi Air Laut di Perairan Indonesia


Nanti para nelayan tersebut dapat membayarnya setelah mereka terjun kembali melaut dengan hasil tangkapan. Hal seperti ini sudah tak asing lagi bagi mereka.

Buyung juga mengharapkan pemerintah daerah (pemda) setempat dapat mencarikan solusi untuk membantu nelayan saat tidak bisa melaut.

"Misalnya membuat program padat karya, di mana nelayan bisa memperbaiki selokan, pantai, serta membuat keramba. Intinya mereka bisa mendapatkan gaji dari sana," kata Buyung.


Editor : Andi Mohammad Ikhbal