Kapolri: Pelabuhan Ilegal di Timur Sumatera Pintu Masuk Penyelundupan

Wildan Catra Mulia ยท Selasa, 15 Januari 2019 - 20:19 WIB
Kapolri: Pelabuhan Ilegal di Timur Sumatera Pintu Masuk Penyelundupan

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian bersama sejumlah Menteri Kabinet Kerja dan kepala lembaga negara di Batu Ampar, Batam, Kepulauan Riau, Selasa (15/1/2019). (Foto: iNews.id/Wildan Catra Mulia).

BATAM, iNews.id – Operasi gabungan Bea Cukai, Polri, dan TNI membongkar 53 kasus penyelundupan sepanjang 2018. Terbongkarnya kasus-kasus itu berhasil menyelamatkan kerugian negara hingga Rp30 miliar.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menuturkan, sejak Satuan Tugas Penertiban Barang Impor Ilegal dibentuk, petugas langsung bekerja. Mereka menyelidiki mulai dari pelabuhan-pelabuhan legal seperti Tanjung Priok, Jakarta dan Tanjung Perak, Surabaya.

Dalam penyelidikan itu, petugas banyak menemukan praktik penyelundupan administrasi.

"Kita istilahkan dengan penyelundupan administrasi. Jadi barang yang masuk administrasinya tidak benar. Itu ditertibkan melalui upaya penegakan hukum," kata Tito dalam konferensi pers bersama di Pelabuhan Batu Ampar, Batam, Selasa (15/1/2018).

BACA JUGA: Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Narkoba melalui Paket Pos

Hadir dalam konferensi pers tersebut antara lain Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menkeu Sri Mulyani, Menhub Budi Karya Sumadi, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, dan Ketua KPK Agus Rahardjo.

Tito menjelaskan, hasil penindakan Satgas, penyelundupan di Indonesia berkurang. Salah satunya dibuktikan dengan laporan Bea Cukai yang menyebut terjadi peningkatan penerimaan negara.

Namun, tindak pidana penyelundupan ternyata tak pernah berhenti. Para penyelundup, kata Tito, memanfaatkan pelabuhan-pelabuhan ilegal terutama di sisi timur Pulau Sumatera untuk melakukan aksinya. Pelabuhan ini dipilih karena berbatasan dengan negara tetangga.

"Terutama mulai dari Kepulauan Riau, Batam dan sekitarnya, Aceh, Sumatera Utara, Jambi sampai Sumsel. Di sini titiknya banyak sekali," kata Tito.

BACA JUGA: Penyelundupan Handphone Senilai Rp7 Miliar Digagalkan Polisi

Dia menjelaskan, para pelaku menyelundupkan berbagai barang, mulai baju bekas, barang elektronik, minuman keras, rokok, hingga narkoba. Barang-barang ini tanpa dilengkapi dokumen apapun. Nilai barang itu diperkirakan mencapai Rp4 triliun.

"Jadi jelas-jelas tidak ada surat, masuk melalui jalur-jalur pelabuhan tikus. Ini perlu penindakan dan pencegahan," ujarnya.

Untuk diketahui, sejumlah kasus penyelundupan berhasil dibongkar tim gabungan di Selat Malaka. Selain tim tersebut, Ditjen Bea Cukai Kemenkeu juga melakukan tindakan serupa.

Dalam kurun Oktober 2018 hingga Januari 2019, Bea Cukai Batam dan Kepulauan Riau telah melakukan penindakan terhadap Kapal MT Yosoa Eks WI No I yang mengangkut kurang lebih 1.500 KL Crude Oil serta serangkaian penindakan narkotika, rokok, kayu, dan lainnya dengan perkiraan total nilai barang kurang lebih mencapai Rp102 miliar dan perkiraan kerugian negara yang berhasil diselamatkan kurang lebih mencapai Rp 64 miliar.


Editor : Zen Teguh