Bertemu Petani di Lampung, Hasto Beberkan Beda Jokowi dengan Prabowo

Antara ยท Minggu, 03 Maret 2019 - 00:18 WIB
Bertemu Petani di Lampung, Hasto Beberkan Beda Jokowi dengan Prabowo

Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Hasto Kristiyanto. (Foto: iNews.id)

TANGGAMUS, iNews.id – Calon Presiden (Capres) Joko Widodo (Jokowi) dinilai sosok pemimpin yang tak sekadar beretorika dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan.

Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma’ruf Amin, Hasto Kristiyanto mengatakan, Jokowi tak sekadar memakai jargon stop impor, namun mengeluarkan kebijakan yang membuat Indonesia tak tergantung pada impor pangan. Jokowi memahami dan melaksanakan apa yang pernah dinyatakan oleh Proklamator RI Bung Karno, bahwa petani penyangga ekonomi Indonesia.

“Jadi berbeda dengan Prabowo yang cuma tahu bicara jargon stop impor, stop impor, tanpa jelas apa kebijakannya,” kata Sekjen PDI Perjuangan ini saat bertemu dengan kelompok petani dan nelayan dari Kabupaten Tanggamus, di sela Safari Kebangsaan IX menyusuri Provinsi Lampung, Sabtu (2/3/2019).

BACA JUGA:

Panen Jagung di Gorontalo, Jokowi Bangga Produksi Naik dan Bisa Ekspor

3 Kartu Baru Andalan Jokowi Berdasarkan Survei Kebutuhan Utama Rakyat

Padahal, lanjut dia, yang lebih penting bagaimana punya kebijakan pangan yang tak tergantung dengan impor. Hasto yang didampingi Ketua DPD PDIP Lampung Sudin dan Pengarah TKD Tanggamus Dewi Handajani menyebutkan, petani dan nelayan di era pemerintahan Jokowi boleh bermimpi dan punya harapan.

Untuk menangani masalah impor, Jokowi tak sekadar bicara. Dia membangun berbagai infrastruktur pertanian, dari embung, bendungan, irigasi, meningkatkan kualitas peneliti pertanian, pusat penelitian benih, hingga memberi bantuan alat mesin pertanian.

“Plus satu lagi, impor tak bisa dihentikan dengan retorika stop impor. Pak Jokowi memberi solusi lewat dana desa serta pembagian lahan. Tak bisa petani makmur kalau elitenya kuasai lahan-lahan besar di mana petani cuma bisa mengolah 0,25 hektare. Jadi stop impor itu tak bisa cuma retorika,” ujarnya.

Hasto menambahkan, Jokowi pemimpin yang mempraktikkan orientasi pembangunan sektor pangan yang berbeda dengan masa lalu. Jika di masa lalu orientasi kebijakan dari atas, maka kini orientasinya dari bawah.


Editor : Maria Christina