Kasus Mayat Perempuan Dekat Stadion Jati Kalinda Terungkap, Faktanya Mengejutkan

Heri Fulistiawan ยท Jumat, 29 November 2019 - 09:53 WIB
Kasus Mayat Perempuan Dekat Stadion Jati Kalinda Terungkap, Faktanya Mengejutkan

Pelaku FS, teman pria yang membuang mayat Belly Oktavia alias Via (19) di dekat Stadion Jati Kalianda. (Foto: iNews/Heri Fulistiawan)

LAMPUNG, iNews.id – Kasus penemuan mayat gadis dekat Stadion Zainal Abidin Pagaralam (Stadion Jati Kalianda), Lampung Selatan terkuak. Polisi menangkap pemuda berinisial FS alias PI, pelaku yang membuang mayat korban Belly Oktavia alias Via (19), perempuan muda asal Kecamatan Natar.

Kasatreskrim Polres Lampung Selatan AKP Try Maradona mengatakan, pelaku FS awalnya menyerahkan diri pada 10 November ke Polsek Natar. Kemudian anggota menjemputnya dan dibawa ke Polres untuk kepentingan penyelidikan.

Hasil pemeriksaan, keterangan FS sesuai dengan hasil autopsi dalam maupun luar dari tubuh korban. Di mana pelaku dan korban sama-sama menggunakan narkoba jenis sabu.

BACA JUGA: Penemuan Mayat Wanita Gegerkan Warga Kalianda, Diduga Korban Pemerkosaan

“Pelaku dan korban ini positif amphetamine (sabu). Sebelum tewas, keduanya pesta narkoba dan berhubungan intim berkali-kali selama seharian penuh. Diduga kondisi korban kelelahan dan efek akibat narkoba hingga akhirnya meninggal (overdosis),” ujar Maradona, Kamis (28/11/2019).

Setelah korban meninggal, pelaku panik dan kebingungan. Dia membawa tubuh korban berkeliling dengan mobil hingga akhirnya meletakkan jenazahnya di dekat Stadion Jati Kalinda yang menjadi TKP penemuan mayat.

BACA JUGA: Identitas Mayat Perempuan di Dekat Stadion Jati Kalianda Terungkap, Namanya Belly Octavia

“Motif pelaku ini panik melihat korban sudah tak bernyawa. Pelaku kemudian menyerahkan diri karena takut diintimidasi,” katanya.

FS diketahui merupakan warga Tegineneng, Kabupaten Pesawaran. Dia kini ditahan dalam sel tahanan Mapolres Lampung Selatan. Pelaku dijerat dengan Pasal 340 kuhp junto Pasal 338 kuhp dengan ancaman hukuman di atas 12 tahun penjara.


Editor : Donald Karouw