Polisi Tangkap Marbot Cabuli 8 Santri di Lampung Barat

Enrico Ngantung, Sindonews ยท Kamis, 23 Mei 2019 - 16:27 WIB
Polisi Tangkap Marbot Cabuli 8 Santri di Lampung Barat

Penangkapan pelaku aksi kriminal. (Foto: Dok iNews).

LIWA, iNews.id - Polres Lampung Barat menangkap seorang pelaku paedofil yang kerap berbuat cabul terhadap delapan bocah laki-laki. Korbannya merupakan santri pondok pesantren (ponpes), rata-rata berusia sekitar 12 hingga 13 tahun.

Kasat Reskrim Polres Lampung Barat, AKP Faria Arista mengatakan, pelaku Ahmad Rofii (45) merupakan tukang bersih-bersih di salah satu masjid kawasan Sekuting Terpadu, Kecamatan Balik Bukit.

"Polisi menangkap pelaku di masjid tempatnya bekerja setelah menerima laporan dari kakak kandung salah satu korban," kata Faria kepada wartawan di Mapolres Lampung Barat, Provinsi Lampung, Kamis (23/5/2019).

BACA JUGA: Usai Cabuli Korban, Pemuda di Pringsewu Jual Gadis Belia Rp70.000

Menurut dia, saat ditangkap pelaku tidak melakukan perlawanan. Dia justru langsung mengakui kelainan perilaku seksualnya. Pelaku juga menyebutkan ada delapan korbannya selama ini, dan semuanya merupakan santri ponpes.

Mereka masing-masing BF, LM, RA, RS, SM, GS, ZA, IR dan KH. Sebelum bekerja sebagai petugas kebersihan di masjid tersebut, pelaku AR ternyata pernah bekerja pada sebuah ponpes di Kecamatan Air Hitam.

"Untuk memudahkan aksinya pelaku merayu para korban dengan pemberian uang maupun barang berharga lainnya seperti sepatu, baju dan lainnya," ujar dia.

BACA JUGA: Kecanduan Film Porno, Bocah SD Perkosa Siswi SMA hingga Hamil

Korban yang terpedaya kemudian dicabuli pelaku di lingkungan masjid juga lingkungan asrama ponpes. Bahkan dia pernah mencabuli korbannya di toilet masjid.

Selain mengamankan tersangka polisi juga mengamankan barang bukti berupa sehelai sarung, celana dalam, sepatu dan uang Rp40.000.

Pelaku dijerat Pasal 76 huruf e junto Pasal 82 Ayat 1 dan 2 Undang-Undang No 17 tahun 2016 tentang Perlindungan Anak. Jika terbukti bersalah pelaku diancam hukuman sampai 15 tahun penjara.


Editor : Andi Mohammad Ikhbal