Puluhan Pelajar SMP di Lampung Tengah Sayat Tangan Usai Nonton YouTube

Roy M Perleoli ยท Jumat, 05 Oktober 2018 - 22:25 WIB
Puluhan Pelajar SMP di Lampung Tengah Sayat Tangan Usai Nonton YouTube

Seorang siswa SMPN 1 Gunung Sugih Lampung Tengah menunjukkan bekas sayatan di tangannya. (Foto: iNews/Roy M Perleoli)

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media

LAMPUNG TENGAH, iNews.id – Puluhan pelajar SMP Negeri 1 Gunung Sugih, Lampung Tengah, nekat melukai tangan mereka dengan cara menyayatnya menggunakan silet. Siswa-siswi ini mengaku melakukannya karena terpengaruh usai menonton video adegan serupa di di YouTube.

Kejadian tersebut terungkap karena kecurigaan salah seorang guru yang membaca berita mengenai 56 pelajar di Riau yang menyayat tangannya setelah mengonsumsi minuman torpedo. Penasaran dengan hal itu, dia lalu mencoba memeriksa para siswanya. Ternyata, tiga siswa yang diperiksanya memiliki luka sayatan di tangan.

“Pak Yus langsung mengambil sampel siswa kami. Lho kok ada kebetulan. Ketika ditanya ini kenapa, katanya disilet. Ada tiga orang dalam satu kelas itu,” kata kata Kepala Sekolah SMPN 1 Gunung Sugih Suharno, Jumat (5/10/2018).

Suharno kemudian mengumpulkan para siswa untuk mengetahui penyebab mereka menyayat tangannya. Pengakuan para siswa, mereka melihat video di YouTube. Mereka meniru adegan yang di YouTube yang menunjukkan sekelompok orang menyayat tangan masing-masing. Namun, mereka tidak merasakan sakit setelah mengonsumsi dua minuman kemasan.

“Ternyata di YouTube itu ada contoh-contohnya, cara menyayat tangan dan tidak sakit. Anak-anak itu belajar dari situ. Ada yang menyayat pakai silet, jarum pentul, ada yang pakai kaca,” kata Suharno.

Aksi tiga siswa yang tersebar ini akhirnya diikuti oleh para pelajar lain di SMPN 1Gunung Sugih. Mereka penasaran ingin mencobanya juga. Terhitung ada 37 siswa yang melakukan aksi nekat tersebut.

“Teman-temannya pada ikut, akhirnya saya kumpulkan, jadilah 37 anak. Rata-rata perempuan, dari 37 orang itu, tiga orang yang laki-laki. Mereka mengaku melakukannya di rumah, pada malam hari. Katanya, pingin tahu aja Pak, pingin merasakan,” katanya.

Para guru yang khawatir langsung memanggil tim medis dari puskesmas setempat untuk memeriksa kesehatan dan psikologi para siswa. Namun, pihak sekolah belum dapat memastikan penyebab sebenarnya kejadian yang menimpa para siswanya. Sekolah juga memberikan sampel minuman dalam video Youtube ke Dinas Kesehatan untuk diperiksa. Namun, hasilnya belum diketahui.

“Mereka enggak mengonsumsi apa-apa. Setelah diperiksa oleh tim kesehatan, belum ada indikasi mengarah ke minuman itu, mungkin halusinasi setelah melihat YouTube. Jadi, kalau ada berita menyatakan itu dari Torpedo, kami bantah, tapi karena pingin tahu,” kata Suharno.

Sementara Kepala Puskesmas Gunung Sugih Yulianti Nilawati memaparkan, sudah melakukan pemeriksaan dan pendekatan secara psikologis kepada para siswa terkait aksi mereka menyayat-nyayat tangan sendiri. Para siswa diimbau agar tidak melakukannya lagi karena tindakan itu tidak baik dan merugikan kesehatan.

“Karena mereka menyayat-nyayat menggunakan silet, beling, dan jarum pentul yang ada di jilbab. Kalau ini sering dilakukan bisa terjadi infeksi,” ujar Yulianti.

Yulianti belum mengetahui pengaruh minuman terhadap aksi para siswa menyayat-nyayat tangannya. Dari hasil pemeriksaan di BPPOM Provinsi Lampung, kandungan minuman yang dikonsumsi pelajar SMPN 1 Gunung Sugih sama seperti yang dikonsumsi para siswa di Pekanbaru dan juga melakukan aksi menyayat-nyayat tangan.

Namun, dia tidak bisa memastikan kaitan minuman yang dikonsumsi para siswa dengan aksi mereka. Para siswa hanya menyebutkan, minuman itu membuat ketagihan. Bahkan, dalam sehari, mereka bisa hingga tiga kali mengonsumsinya. Apalagi jika kondisi mereka sedang capek dan lemas.

“Kemudian, aksi menyilet-nyilet tangan bisa mereka lakukan di rumah. Katanya ada sih rasa sakit, tapi mereka pengen, seperti ada bisikan untuk menyilet-nyilet tangan itu, jadi berhalusinasi setelah melihat video di YoTube,” paparnya.


Editor : Maria Christina