Ratusan Korban Tsunami Mengungsi di Kebun Cengkeh Lampung Selatan

Antara ยท Kamis, 27 Desember 2018 - 23:59 WIB
Ratusan Korban Tsunami Mengungsi di Kebun Cengkeh Lampung Selatan

Suasana Desa Sumber Jaya, Kecamatan Sumur, Banten, Kamis (27/12/2018). Sumur merupakan salah satu wilayah terparah dilanda tsunami Selat Sunda. (Foto: Sindonews/Isra Triansyah).

LAMPUNG, iNews.id - Ratusan warga yang menjadi korban tsunami di Lampung Selatan, Provinsi Lampung mengungsi di kebun cengkeh di bawah kaki Gunung Rajabasa tepatnya di Dusun Satu. Mereka belum berani kembali ke rumah masing-masing karena masih trauma dan khawatir terjadi tsunami susulan.

Jahidin, salah satu warga, mengaku merasa aman kendati dalam kondisi darurat. Bertahan di pengungsian menjadi pilihan karena mereka takut terjadi tsunami susulan.

"Di sini kami merasa aman walaupun tidak nyaman karena pengungsian ini kami buat seadanya dengan beratapkan terpal. Yang penting lokasinya berada di atas dan jauh dari pantai," kata Jahidin, Kamis (27/12/2018).

BACA JUGA: Serang Terendam Banjir usai Diterjang Tsunami, Ribuan Warga Mengungsi

Sedikitnya 200 orang dari 56 kepala keluarga yang berada di tempat itu. Mereka bertahan dengan pasokan yang dibawa dari rumah dan tanaman di sekitar.

Idoh Mafrudoh yang mengungsi bersama suami dan dua anaknya juga mengaku belum berani kembali ke rumah. Dia bertahan di pengungsian yang dibuka oleh warga itu kendati fasilitas umum sangat terbatas. Untuk keperluan MCK pun mereka dalam kondisi darurat.

"Kalau untuk mengambil bantuan, ada suami yang turun sesekali jika persediaan makanan habis dan mengambilnya ke posko utama yang ada di SMAN 1 Rajabasa," ujarnya.

BACA JUGA: Status Gunung Anak Krakatau Siaga, Warga Diminta Jauhi Radius 5 Km

Informasi yang dihimpun, di kebun cengkeh itu tidak sedikit warga yang masih memiliki bayi dan balita. Mereka tetap nekat bertahan meski relawan, dokter dan lembaga lainnya sudah membujuk agar mau pindah ke lokasi yang lebih nyaman dan aman, misalnya rumah sakit. Apalagi di kebun tersebut warga rawan terserang malaria karena banyak nyamuk.

Situasi di pengungsian itu memprihatinkan. Sunenti, misalnya, tetap enggan pindah dengan alasan kakinya terluka. Kendati demikian dia merasa khawatir bayi perempuannya yang baru satu bulan bernama Nova mengalami dehidrasi.

Sama halnya dengan Sarmah. Dia dan anaknya yang baru satu tahun setengah tetap bertahan di pengungsian kebun cengkeh karena rumah satu-satunya di Des Waymuli sudah rata dengan tanah akibat diterjang tsunami.


Editor : Zen Teguh