Belasan Anak Penderita DBD Terpaksa Dirawat di Lorong Rumah Sakit

Nurdin Tubaka · Kamis, 26 April 2018 - 18:04 WIB
Belasan Anak Penderita DBD Terpaksa Dirawat di Lorong Rumah Sakit

Belasan anak penderita demam berdarah dengue (DBD) terpaksa menjalani perawatan di lorong-lorong rumah sakit. (Foto: iNews.id/Nurdin Tubaka)

AMBON, iNews.id - Belasan anak penderita demam berdarah dengue (DBD) terpaksa menjalani perawatan di lorong-lorong rumah sakit. Hal tersebut disebabkan daya tampung ruang perawatan anak di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cendrawasih, Kota Dobo, Kepulauan Aru, Maluku, tidak mencukupi.

Dalam sepekan terakhir, jumlah penderita DBD di Kota Dobo meningkat signifikan. Tercatat dari 45 kasus yang terjadi, sebagian di antaranya anak-anak. Sementara terhitung sejak Januari hingga April, terdapat 67 kasus yang tiga di antaranya berakhir dengan kematian.

Di tengah tingginya kasus penderita DBD, rumah sakit hanya memiliki satu dokter umum untuk melayani semua pasien. Beruntung, kondisi salah seorang pasien yang masih berusia tiga bulan berangsur-angsur membaik.

Orang tua sang anak mengaku sudah tiga hari anaknya terserang demam berdarah. Dia pun berharap anaknya bisa segera mendapatkan perawatan yang optimal. "Terserang DBD hingga saat ini sudah tiga hari. Alhamdulillah sudah lebih baik," kata Rojak di RSUD Cendrawasih, Kamis (26/4/2018).

Mendengar hal tersebut, Wakil Bupati Kepulauan Aru Muin Sogalrey segera mengunjungi para pasien. Kunjungannya untuk memastikan semua penanganan dan pelayanan terhadap penderita DBD berlangsung dengan baik. Dia menegaskan, penderita DBD harus ditangani secara serius.

Sementara, untuk kebutuhan tenaga medis atau dokter dia juga sudah mengajukan hal tersebut kepada Kementerian Kesehatan. Hanya saja, kata dia, hal tersebut hingga saat ini belum kunjung terealisasi. Agar penderita DBD tidak bertambah, Sogalrey juga sudah menginstruksikan bawahannya untuk melakukan penyemprotan atau fogging. Dinas terkait juga dimintanya turun ke masyarakat untuk menyosialisasikan bahaya DBD.

"Sudah dilakukan penanganan baik terkait pasien, tenaga medis dan langkah pencegahan. Pokoknya yang terpenting korban DBD harus ditangani secara serius," ungkap Sogalrey.

Direktur RSUD Cendrawasih Dobo Henrik Darakay mengaku hanya memiliki dokter spesialis penyakit dalam dan dokter umum. Sementara dokter spesialis anak belum ada. Kondisi tersebut membuat pelayanan di RSUD Dobo tidak maksimal kepada para pasien DBD. Sebagai alternatif, pihaknya terpaksa meminta tenaga dokter umum.

"Kami berharap di waktu yang akan datang, pemerintah bisa menambah dokter spesialis anak atau spesialis lain. Kalau kasus serupa mungkin terjadi di waktu yang akan datang, rumah sakit sudah dilengkapi sumber daya manusia yang memadai," kata Darakay.


Editor : Achmad Syukron Fadillah