Kejahatan Seksual terhadap Anak di Maluku Tenggara Barat Masih Tinggi

Antara · Kamis, 03 Mei 2018 - 17:49 WIB
Kejahatan Seksual terhadap Anak di Maluku Tenggara Barat Masih Tinggi

Ilustrasi pencabulan anak. (Foto: Okezone)

SAUMLAKI, iNews.id – Angka kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur di Maluku Tenggara Barat (MTB) masih tinggi. Data terkini Polres MTB menyebutkan, angka tindak pidana di wilayah itu didominasi oleh kasus tersebut.

Wakapolres MTB, Kompol Lodevicus Tethool menyatakan, kasus-kasus yang terjadi di MTB saat ini tergolong konvensional atau sudah sering ditangani oleh Polres MTB. “Ada kasus yang serius dan perlu ditangani, yakni masih tingginya tindak pidana kejahatan seksual terhadap anak dan ini sudah sangat memprihatinkan," kata Lodevicus dalam diskusi dengan awak media di Saumlaki, Kamis (3/5/2018).

Sejak 2017 hingga awal 2018, jumlah tindak pidana kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur yang ditangani Polres MTB meningkat. Bahkan saat ini, Satreskrim Polres MTB sedang menyelidiki dua kasus. "Kemarin baru kami tangani satu kasus, pagi ini sudah ada kasus baru lagi. Biasanya kasus kejahatan seksual terhadap anak ini, pelakunya orang dekat saja seperti teman, paman, saudara bahkan guru sendiri," katanya.

Makin tingginya kejahatan seksual yang dilakoni oleh para predator anak ini mendorong pihaknya untuk berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) MTB guna mencari format yang tepat terhadap upaya menekan angka kasus tersebut.

Lodevicus menyatakan, ada dua penyebab terjadinya kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur di MTB, yakni konsumsi minuman keras (miras) secara berlebihan dan pengaruh menonton video porno. Kejahatan ini terus bertambah karena masyarakat setempat masih menggunakan tradisi kearifan lokal adat istiadat untuk menyelesaikan setiap persoalan, tanpa dibarengi hukum positif.

"Persoalannya siapa yang menderita, harga diri dan kehormatan anak itu tidak bisa dinilai dengan uang. Makanya kami bersama pemerintah daerah mencari formula yang tepat untuk meningkatkan upaya pencegahan. Karena kalau hanya mengandalkan penyelesaiannya secara adat, bisa menimbulkan masalah yang baru seperti eksploitasi terhadap anak di bawah umur," ucapnya.

Lodevicus mengaku tidak akan membiarkan semakin bertambahnya predator terhadap anak di bawah umur di wilayah hukum Polres MTB. Terhadap penyelesaian kasus secara adat, dia mengaku tidak keberatan dan tetap menghormati tradisi adat setempat. Namun, para korban perlu mengajukan proses hukum terhadap pelaku.

Sementara itu, Bupati MTB, Petrus Fatlolon mengakui hingga kini perlawanan terhadap predator anak di bawah umur di wilayahnya belum maksimal. "Saya akan mendiskusikan hal ini secara serius dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah untuk mencari langkah yang tepat guna mengurangi semakin bertambahnya angka kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur di daerah ini," katanya.


Editor : Himas Puspito Putra