Abu Vulkanik Masih Keluar dari Gunung Gamalama, 3 Kelurahan Terdampak

Agus Suprianto, Antara ยท Jumat, 05 Oktober 2018 - 14:43 WIB
Abu Vulkanik Masih Keluar dari Gunung Gamalama, 3 Kelurahan Terdampak

Abu vulkanik yang masih keluar di atas Gunung Gamalama, Jumat (5/10/2018). (Foto: iNews/Agus Suprianto)

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media

TERNATE, iNews.id – Gunung Gamalama di Ternate, Maluku Utara, mengeluarkan abu vulkanik tebal berwarna keabu-abuan setinggi 150 meter, Jumat (5/10/2018) pagi. Kondisi itu menyebabkan tiga daerah terdampak abu, yakni Kelurahan Takome, Loto dan Kelurahan Togafo.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Gamalama Darno Lamane mengatakan, rekahan sebelah barat laut sudah menyatu dengan kawah utama sehingga intensitas abu vulkanik semakin membesar. “Abu vulkaniknya masih keluar saat ini dengan ketinggian 150 meter dari puncak kawah,” kata Darno di Ternate, Jumat (5/10/2018).

Dia mengungkapkan, belum ada peningkatan status atas kondisi gunung api aktif tersebut. “Masih Waspada level II,” ucapnya.


BACA JUGA:

Gunung Gamalama di Ternate Meletus, Tinggi Kolom Abu 250 Meter

Hujan Abu Vulkanik Gunung Gamalama Guyur 3 Kelurahan di Ternate


Warga dan wisatawan diimbau untuk tidak mendekati puncak gunung dalam radius 1,5 kilometer (Km) dari kawah Gamalama. Warga yang berada dibantaran kali juga diminta mewaspadai adanya ancaman aliran lahar dingin karena letusan menghasilkan mengembusan abu vulkanik.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ternate, Maluku Utara (Malut) bergerak cepat dengan membagikan masker ke warga di Ternate Barat terutama tiga kelurahan yang terpapar tersebut. "Kami juga mengumpulkan seluruh lurah di kawasan terdampak abu vulkanik untuk mengantisipasi adanya lahar dingin saat musim hujan," kata Kepala BPBD Kota Ternate Hasyim Yusuf.

Pihaknya meminta masyarakat agar tetap tenang dan tetap beraktivitas seperti biasa. Mereka diimbau untuk tidak mudah informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya dan menimbulkan keresahan.


Editor : Donald Karouw