Alissa Wahid Sebut Tantangan Indonesia saat Ini Mayoritarianisme Berbasis Agama

Kastolani ยท Sabtu, 31 Agustus 2019 - 15:53 WIB
Alissa Wahid Sebut Tantangan Indonesia saat Ini Mayoritarianisme Berbasis Agama

Forum diskusi terbatas menyusun strategi gerakan Muslim Moderat di Sanur, Kota Denpasar, Jumat (30/8/2019). (Foto: Istimewa)

DENPASAR, iNews.id – Seknas Gusdurian Hj Alissa Wahid menyampaikan tantangan keberagamaan Indonesia di era Reformasi saat ini. Dia menyebut konflik negara dan masyarakat sebagai problem orde lama dan terutama orde baru. Sementara pada era reformasi, bergeser dari konflik vertikal ke horizontal antarkelompok masyarakat.

“Dulu people vs state. Sekarang people vs people. Seorang jurnalis pada media nasional menyebut, kami tidak takut menulis apapun terkait pejabat. Yang kami takut adalah FPI. Salah menulis saja, mereka akan menggeruduk kantor redaksi,” ujar Hj Alissa Wahid dalam Forum Diskusi Terbatas di Sanur, Kota Denpasar, Jumat (30/8/2019).

Forum bertema ‘Menyusun Strategi Gerakan Muslim Moderat’ ini diselenggarakan Staf Khusus Presiden Bidang Keagamaan Dalam Negeri. Acara ini dihadiri tokoh masyarakat dan tokoh agama Islam di Bali.

Menurutnya, praktik seperti ini dipicu klaim-klaim mayoritas dan pandangan mayoritarianisme. Sementara hal itu terjadi karena demokrasi dipahami secara reduksi sebagai siapa yang menang sehingga mayoritas berhak semaunya.

“Mayoritarianisme di Indonesia berbasis agama apa saja, bukan hanya berbasis agama Islam. Di kantong minoritas Muslim di mana masjid dilarang. Bali lain lagi. Papua lain lagi. Jawa juga demikian. Di daerah lain beda lagi. Mayoritarianisme berbasis agama ini kemudian turun ke politik berbasis agama,” kata Hj Alissa.

Dia mengungkap tantangan karakter komunal berbasis agama di Indonesia dan prinsip demokrasi yang disepakati negara Pancasila dengan menjamin kebebasan individu berbasis hukum.

“Tantangannya, karakter komunal beragama dan karakter demokrasi yang berbasis hak individu. Ketika Munas NU memutuskan term kafir tidak ada dalam negara Indonesia karena pemahaman atas demokrasi yang berbasis individu. Tetapi ini di-reframing NU bidahnya keterlaluan,” ucapnya.

Dia menyayangkan praktik-praktik kekerasan, eksklusivisme, dan praktik intoleransi terjadi di Indonesia dari ‘mayoritas’ kepada ‘minoritas’.

Selain itu juga menyebut fenomena keberagaman dalam Islam belakangan ini. Di mana saat ini tumbuh kalangan menengah yang sedang bersemangat menjalankan agama Islam. Mereka umumnya berasal dari latar belakang pendidikan non-pesantren dan non-madrasah serta tidak berafiliasi kepada kelompok Islam yang sudah ada.

“Tantangan kita bukan LDII, Wasliyah, dan lain sebagainya. Tetapi 22% muslim yang sama sekali tidak berafiliasi ke komunitas Muslim Indonesia. Mereka ini tantangan kita Indonesia. Kata Hasan dari Alvara pada 2015. Mereka berasal dari katakan ‘abangan’ yang tidak kenal agama kemudian rentan kemasukan paham ikut nabi kembali alquran dan hadits, doktrin Islam kaffah,” tutur Hj Alissa.

Menurutnya, tindakan seperti ini dilakukan individu atau kelompok yang mengatasnamakan mayoritas. Mereka ini perlu diedukasi dan diajak berdialog secara intensif.

“Artinya kita harus memanajemen kelompok-kelompok komunal ini dengan baik. Kita tidak bisa sekadar mengecam atau mencaci mereka,” katanya.


Editor : Donald Karouw