Badai Siklon Lili Rusak Bangunan dan Picu Banjir 1,5 Meter di Maluku Barat Daya

Felldy Utama ยท Kamis, 09 Mei 2019 - 16:38 WIB
Badai Siklon Lili Rusak Bangunan dan Picu Banjir 1,5 Meter di Maluku Barat Daya

Hasil citra satelit wilayah Indonesia Kamis (9/5/2019). (Foto: BMKG)

JAKARTA, iNews.id – Siklon tropis Lili yang berada di sebelah utara Laut Timor terus bergerak ke arah barat daya dan menyebabkan cuaca ekstrem di lokasi sekitarnya. Dampaknya, angin kencang dan banjir melanda sejumlah daerah di Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku.

Informasi yang diperoleh, siklon tropis Lili menerjang Rabu (8/5/2019) pukul 19.00 WIT. Sejumlah wilayah yang terdampak yakni Desa Laitutun di Kecamatan Pulau Letti, Desa Tounwawan di Kecamatan Moa Lakor dan Desa Luang Timur di Kecamatan Mdona Hiera.

Data sementara, di Desa Tounwawan, angin kencang menyebabkan beberapa rumah warga rusak. Kemudian di Desa Luang Timur, angin kencang mengakibatkan 10 unit rumah rusak berat, 1 unit kantor desa rusak berat dan 1 buah kapal tenggelam akibat gelombang tinggi.

Selanjutnya di Desa Pulau Letti, satu unit bendungan jebol dan luapan air sebabkan beberapa rumah rusak. Di Dusun Poliwu, banjir merendam gedung Sekolah Dasar (SD) Kristen Poliwu setinggi 1,5 meter.


BACA JUGA:

Badai Siklon Tropis Lili Landa Timur Indonesia, Tinggi Gelombang Capai 7 Meter

BMKG: Ada Potensi Badai Siklon Tropis Terjadi Kamis Siang Ini


“Tidak ada korban jiwa dalam bencana yang melanda sejumlah daerah di Maluku Barat Daya. Beberapa warga mengungsi, namun jumlahnya masih dalam pendataan,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Kamis (9/5/2019).

Dampak siklon tropis sudah dirasakan masyarakat di Pulau Letti sejak Selasa (6/5/2019) dan puncaknya terjadi Rabu (8/5/2019) pukul 21.00 WIT. Gelombang tinggi membuat masyarakat tidak ada yang berani berlayar.

Tim Reaksi Cepat (TRC) setempat telah melakukan kajian dan melaporkan kejadian bencana alam ini ke Bupati Maluku Barat Daya. Selanjutnya Bupati bersama BPBD dan sejumlah instansi terkait melakukan kunjungan ke lokasi kejadian. Penanganan darurat dilakukan bersama BPBD, TNI, Polri, SKPD, relawan dan masyarakat.

“Kendala penanganan darurat ada pada minimnya jumlah personel BPBD setempat. Jaringan telekomunikasi yang masih buruk sehingga informasi kejadian bencana terlambat disampaikan,” katanya.

Hingga siang ini, banjir telah surut. Ketinggian air yang semula mencapai 1,5 meter kini menjadi hanya 30-50 cm.


Editor : Donald Karouw