Beredar Hoaks Pascagempa Maluku, Tim Gabungan Aktif Beri Penjelasan kepada Warga

Aditya Pratama ยท Rabu, 02 Oktober 2019 - 12:41 WIB
Beredar Hoaks Pascagempa Maluku, Tim Gabungan Aktif Beri Penjelasan kepada Warga

Rumah-rumah warga di Kota Ambon, Provinsi Maluku, rata dengan tanah setelah diguncang gempa bumi bermagnitudo 6,5, Kamis (26/9/2019) lalu. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.idPascagempa di Ambon, Provinsi Maluku, bermagnitudo 6,5 pada Kamis (26/9/2019), beredar hoaks tentang adanya gempa dan tsunami sehingga warga mengungsi. Pemerintah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, dan Polri hingga kini terus melakukan pendekatan kepada warga agar tidak terpancing hoaks.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo mengatakan, hingga tadi malam, Selasa (1/10/2019), tim gabungan masih terus mengimbau warga untuk kembali ke rumah mereka. Tim Reaksi Cepat BNPB (TRC) juga menyampaikan bahwa camat, kepala desa, babinsa dan babinkamtibmas di wilayah Kabupaten Seram Bagian Barat telah memberikan penjelasan kepada warga.

“Tim memberikan penjelasan sejak beberapa hari lalu, pascagempa yang terjadi pada Kamis lalu, pukul 06.46 WIB,” kata Agus dalam siaran pers, Rabu (2/10/2019).

BACA JUGA:

Beredar Isu Ancaman Gempa Besar dan Tsunami di Ambon, Ini Kata BMKG

Gempa Magnitudo 6,8 Guncang Ambon dan Sekitarnya, Begini Penjelasan BMKG

Ketika beredar hoaks akan ada gempa dan tsunami dalam waktu dekat, warga memilih mengungsi di dataran lebih tinggi. Saat ini, sebagian warga juga masih percaya hoaks tersebut sehingga ada yang mengungsi ke bukit secara tersebar dan sulit dijangkau personel gabungan.

“Kondisi tersebut justru menyebabkan kualitas kesehatan warga menurun seiring turunnya hujan,” kata Agus.

Setelah tim gabungan terus memberikan penjelasan bahwa isu yang beredar tidak benar, sejumlah warga yang mengungsi memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing. “Hal tersebut dilihat dari berkurangnya jumlah penyintas hingga 72.000 jiwa sejak semalam, Selasa (1/10/2019),” katanya.

Agus mengatakan, untuk mengupayakan penyadaran terhadap hoaks, Kepala Sub Direktorat Peringatan Dini BNPB Abdul Muhari dan peneliti Badan Geologi Cipta dan perwakilan BPBD Provinsi Maluku juga memberikan keterangan secara langsung melalui TVRI Ambon, Rabu pagi ini (2/10/2019). Muhari menyampaikan mengenai karakterter dan historis gempa di Ambon sehingga masyakarat memiliki pengetahuan dan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa.

Berdasarkan informasi BMKG hingga Selasa (1/10/2019), total gempa susulan berjumlah 782 dan gempa yang dirasakan 82 kali. Dilihat dari gempa susulan yang terjadi, frekuensi cenderung turun.


BACA JUGA: Kepala BNPB Kunjungi Korban Gempa Ambon, Pastikan Penanganan Darurat Berjalan Baik


Data sementara per 1 Oktober 2019 mencatat total penyintas gempa bumi berjumlah 115.290 jiwa. Para penyintas terbesar terdapat di Kabupaten Seram Bagian Barat sebanyak 36.391 jiwa, di Maluku Tengah 50.250 jiwa, dan di Kota Ambon 28.649 jiwa.

Sementara itu, total rumah rusak berjumlah 6.184 unit dengan rincian di wilayah Maluku Tengah rumah rusak berat 1.635 unit, rusak sedang 956 dan rusak ringan 2.120 unit. Di wilayah Seram Bagian Barat, rumah yang rusak berat 259 unit dan rusak ringan 681. Sedangkan di wilayah Kota Ambon, rusak berat 96 unit, rusak sedang 145 unit, dan rusak ringan 292.

“Hingga kini, masing-masing wilayah yang terdampak gempa terus melakukan upaya penanganan darurat bencana. Masa tanggap darurat sementara ini akan berakhir pada 9 Oktober 2019 nanti,” kata Agus.


Editor : Maria Christina