Data Terbaru Korban Gempa Ambon, 23 Orang Tewas dan Ratusan Luka-luka

Antara, Ilma De Sabrini ยท Jumat, 27 September 2019 - 10:15 WIB
Data Terbaru Korban Gempa Ambon, 23 Orang Tewas dan Ratusan Luka-luka

Gubernur Maluku Murad Ismail (kedua kanan) melihat kondisi salah seorang balita yang menderita patah lengan akibat gempa tektonik di RSDU dr haulussy, Kudamati Ambon, Kamis malam (27/9/2019). (Foto: Antara)

AMBON, iNews.id – Korban tewas akibat gempa bumi Magnitudo 6,8 di Kota Ambon, Maluku, terus bertambah. Data terbaru hingga Jumat pagi (27/9/2019), jumlah korban tewas sudah 23 orang dan ratusan lainnya luka-luka akibat bencana pada Kamis (26/9/2019), pukul 08.46 WIT.

Gubernur Maluku Murad Ismail mengatakan, sebanyak 23 orang korban tewas tersebut merupakan warga dari tiga kabupaten di Provinsi Maluku. Ketiganya yakni, Pulau Ambon, Kabupaten Maluku Tengah, serta Seram Bagian Barat (SBB).

“Data yang saya terima dari Kepala BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Maluku, Farida Salampessy, sebanyak 23 orang warga meninggal dan seratusan warga lain menderita luka-luka,” kata Murad di Ambon, Jumat (27/9/2019).

BACA JUGA:

Pascagempa Magnitudo 6,8, Ambon Diguncang 245 Gempa Bumi Susulan hingga Jumat Pagi

Update 20 Orang Meninggal Dunia dalam Gempa di Ambon, Ini Identitasnya

Murad mengatakan, saat ini pihaknya fokus pada penanganan para korban yang menderita luka-luka. Mereka segera mendapatkan perawatan medis secara optimal di sejumlah rumah sakit di Kota Ambon maupun kabupaten lain agar dapat segera pulih dan sembuh.

“Saya memastikan semua korban luka mendapatkan perawatan maksimal oleh para dokter dan perawat, sehingga segera pulih dan sembuh,” katanya.

Gubernur juga memastikan seluruh biaya perawatan dibiayai sepenuhnya oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku. Karena itu, dia meminta para korban dan keluarganya tidak perlu merasa khawatir.

“Seluruh biayanya menjadi tanggung jawab pemprov. Jika ada dokter maupun tenaga medis yang minta pembayaran, segera laporkan dan saya akan mengambil tindakan tegas,” katanya.

Menurut Murad, banyaknya korban luka dalam musibah itu karena masyarakat panik dan takut saat terjadi bencana. Warga berhamburan keluar rumah tanpa memikirkan keselamatan sehingga banyak yang tertimpa reruntuhan rumah dan bangunan.

Mantan Kakor Brimob Polri tersebut juga mengimbau warga untuk tidak panik dan takut. Selalu upayakan untuk melindungi diri dan keluarga agar tidak menjadi korban bencana alam tersebut.

“Bencana ini tidak bisa diprediksi. Guncangan juga masih dirasakan hingga pagi ini. Terpenting, masyarakat tidak panik dan takut agar bisa berpikir jernih untuk menyelamatkan diri saat terjadi bencana,” katanya.

Sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku, Farida Salampessy membenarkan, 23 orang meninggal pascagempa tektonik bermagnitudo 6,8 yang kemudian dimutakhirkan menjadi 6,5. Para korban meninggal sebagian besar karena tertimpa reruntuhan bangunan rumah dan fasilitas umum lainnya.

“Korban terbanyak di kecamatan Salahutu, Pulau Ambon, Kabupaten Maluku Tengah serta enam orang di Kota Ambon dan tiga lainnya di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB),” katanya.

Farida juga memastikan lebih dari 100-an warga Desa Liang, kecamatan Salahutu, Pulau Ambon, Kabupaten Maluku Tengah mengalami luka-luka berat, sedang maupun ringan. Sementara korban luka di Kota Ambon enam orang dan di Desa Waesama, Kabupaten SBB, satu orang luka. Seluruhnya telah mendapatkan perawatan medis.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo sebelumnya menyebutkan, jumlah korban tewas pascagempa Ambon, Kamis (26/9/2019) masih terus bertambah.

Agus mengatakan, para korban tewas akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Dia menyebut korban masih bisa bertambah mengingat pendataan masih dilakukan petugas.

“Kemungkinan besar (bertambah), saya belum lihat jumlah penduduknya. Sebenrnya bisa diprediksi dari jumlah penduduk dan jumlah rumah seperti apa,” ujar Agus.


Editor : Maria Christina