Gempa Tektonik 5,0 SR Guncang Wilayah Maluku Tenggara Barat

Antara, Himas Puspito Putra ยท Rabu, 16 Januari 2019 - 08:21 WIB
Gempa Tektonik 5,0 SR Guncang Wilayah Maluku Tenggara Barat

Gempa bumi tektonik, 5,0 Skala Richter (SR) mengguncang wilayah Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB), Provinsi Maluku, Rabu (16/1/2019) pagi. (Foto: BMKG)

AMBON, iNews.id - Gempa bumi tektonik, 5,0 Skala Richter (SR) mengguncang wilayah Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB), Provinsi Maluku, Rabu (16/1/2019) pagi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat, gempa yang terjadi pukul 06.40 WIB itu tidak berpotensi tsunami.  

Analisis BMKG, titik episentrum gempa berada pada 6,93 Lintang Selatan (LS) dan 128,97 Bujur Timur (BT). Pusat gempa berlokasi 273 kilometer (km) arah barat laut Maluku Tenggara Barat dengan kedalaman 10 km.

Kepala BMKG Kelas I Ambon, Sunardi mengatakan hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi tidak berpotensi tsunami, dan sampai saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan.

Hasil monitoring BMKG juga belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock).
"Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," katanya di Ambon, Rabu (16/1/2019).

Data BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Ambon sebanyak 1.587 kali gempa bumi mengguncang Provinsi Maluku sepanjang 2018. Sepanjang 2018 tercatat sebanyak 1.587 kali gempa bumi mengguncang provinsi Maluku, 61 kali di antaranya dirasakan tetapi tidak menimbukan kerusakan fasilitas lainnya.

Gempa yang terjadi di Maluku disebabkan adanya aktivitas pelepasan energi di zona tumbukan lempeng serta di zona-zona patahan aktif yang ada di wilayah tersebut. Walaupun terjadi gempa bumi yang cukup banyak, gempa yang terjadi tidak menimbulkan kerusakan dan tak berpotensi tsunami.

Maluku merupakan wilayah yang rawan gempa dan tsunami, karena berada pada pertemuan tiga lempeng besar, yakni Pasifik, Indo Australia, dan Eurasia. Lempeng Indo Australia masuk ke bawah Eurasia dan bertemu lempeng Pasifik. Pertemuan dua ini membuat terjadinya patahan yang tidak beraturan.


Editor : Himas Puspito Putra