Jadi Korban Investasi Bodong, Puluhan Warga Maluku Utara Mengamuk

Antara ยท Senin, 05 November 2018 - 13:03 WIB
Jadi Korban Investasi Bodong, Puluhan Warga Maluku Utara Mengamuk

Ilustrasi kasus investasi bodong. (Foto: Okezone)

TERNATE, iNews.id - Puluhan warga yang tersebar di Kecamatan Tobelo, Halmahera Utara (Halut), Maluku Utara (Malut) menjadi korban investasi bodong. Mereka mengamuk lantaran uangnya tidak juga dicairkan oleh perusahaan yang bersangkutan.

Kasat Reskrim Polres Kabupaten Halut, AKP Rusli Mangoda membenarkan hal tersebut. Puluhan warga korban investasi bodong itu mengamuk dan meminta manajemen PT Global Investasi (GI) selaku perusahaan investasi untuk mencairkan dana yang dijanjikan ke nasabahnya.

Oleh karena itu, pihaknya saat ini telah membuka posko pengaduan korban investasi ilegal tersebut.
Hanya saja, hingga saat ini belum satupun nasabah yang merasa dirugikan membuat pengaduan resmi ke polisi. Polisi akan menindaklanjuti jika sudah ada laporan resmi agar bisa mencari solusinya.

"Memang sudah ada yang menyampaikan namun mereka belum mau membuat laporan resmi di posko pengaduan," katanya saat dihubungi dari Ternate, Senin (5/11/2018).

Sebelumnya, Warga mengamuk lantaran janji perusahaan yang akan mencairkan uang mereka tidak juga dipenuhi. Akibatnya, puluhan nasabah mengamuk di depan rumah pengelola investasi yang terletak di desa Gamsungi kecamatan Tobelos sejak Minggu (4/11/2018/2018) kemarin.

Kekesalan nasabah juga disebabkan karena keberadaan pengelola hingga saat ini tidak diketahui. Mereka menganggap, pengelola sengaja lari dari tanggung jawab pelunasan pembayaran Investasi PT GI.

Salah seorang nasabah PT GI, Abbas saat dikonfirmasi mengakui, hampir rata-rata warga menginvestasikan modalnya di atas Rp50 juta. Jika ditotalkan secara keseluruhan jumlah investasi bodong tersebut mencapai lebih dari Rp1 miliar.

"Kami hanya minta pengembalian uang yang di jadikan modal sesuai dengan apa yang telah dijanjikan, " ujar Abbas.

Para nasabah mengancam akan menempuh jalur hukum untuk menyita aset pengelola sebagai bentuk ganti rugi terhadap mereka.


Editor : Himas Puspito Putra