Pascagempa 7 SR, BMKG Deteksi 99 Gempa Susulan di Ternate Maluku Utara

Donald Karouw, Antara ยท Rabu, 10 Juli 2019 - 12:15 WIB
Pascagempa 7 SR, BMKG Deteksi 99 Gempa Susulan di Ternate Maluku Utara

Ilustrasi gempa bumi. (Foto: Okezone)

MANADO, iNews.id – Kota Ternate, Maluku Utara, masih terus diguncang gempa bumi susulan pascadilanda gempa 7 Skala Richter (SR) pada Minggu (7/7/2019) malam. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 99 kali gempa susulan hingga Rabu (10/7/2019) pukul 08.25 WIB.

Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Geofisika Winangun, Kota Manado, Edward H Mengko mengatakan, magnitudo gempa-gempa susulan itu maksimum 5,7 dan minimum 2,9 SR.

“Dari seluruh gempa, tercatat tiga kejadian gempa yang dapat dirasakan, termasuk gempa utama,” kata Edward.

BACA JUGA:

47 Gempa Bumi Susulan Guncang Ternate Maluku Utara hingga Sening Siang

Gempa Bumi 7,1 SR Guncang Ternate Maluku Utara, Begini Penjelasan BMKG

Edward menjelaskan, gempa bumi dengan kekuatan besar biasanya diikuti oleh gempa-gempa susulan. Hal itu terjadi karena batuan yang terdeformasi akibat gempa terus melepaskan energi untuk mencapai kestabilan.

“Kestabilan dalam artian gempa buminya tidak akan betul-betul berhenti. Sebab, penyebab utamanya dari tekanan lempeng mikro dari arah barat dan dari arah timur masih berlangsung secara alamiah,” kata Edward.

Kestabilan artinya kondisi intensitas gempa di seputaran episenter gempa utama berangsur berkurang seiring waktu dan pelepasan energi. Ini karena deformasi batuan di sekitar lokasi episenternya makin stabil.


BACA JUGA: Gempa 7,1 SR di Perairan Ternate, Berpotensi Tsunami


Diketahui, gempa bumi tektonik dengan magnitudo 7,1 mengguncang wilayah laut di antara Sulawesi Utara dan Maluku Utara pada Minggu (7/7/2019) pukul 22.08 WIB. Pusat gempa berada di dasar laut di kedalaman 49 kilometer (km), tepatnya di koordinat 0,53 Lintang Utara (LU) dan 126,18 Bujur Timur (BT), sekitar 133 kilometer arah barat Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono mengatakan, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis dangkal akibat deformasi kerak bumi pada Lempeng Laut Maluku. Gempa ini memiliki mekanisme sesar naik (thrust fault) akibat adanya tekanan atau kompresi lempeng mikro Halmahera ke arah barat, dan tekanan lempeng mikro Sangihe ke arah timur.

“Akibatnya, lempeng laut Maluku terjepit hingga membentuk double subduction ke bawah Halmahera dan ke bawah Sangihe,” ujarnya.


Editor : Maria Christina