Tak Ada Guru, Serka La Adam Bantu Mengajar Puluhan Anak Putus Sekolah

Tri Hatnanto ยท Sabtu, 16 Februari 2019 - 03:30 WIB
Tak Ada Guru, Serka La Adam Bantu Mengajar Puluhan Anak Putus Sekolah

Serka La Adam, anggota Koramil 1502-10/Werinama mengajar puluhan anak putus sekolah di Desa Funannayaba, Pulau Seram, Maluku. (Foto: Dipenad)

JAKARTA, iNews.id - Tidak adanya guru dan minimnya prasarana belajar mengajar membuat Babinsa Serka La Adam dengan tiga warga mengajar puluhan anak putus sekolah di Desa Funannayaba, Pulau Seram, Maluku.

Dandim 1502/Masohi Letkol Inf Hari Sandhi Chrishandoko mengatakan, tidak adanya akses jalan raya, menjadikan Funanayaba sebagai desa yang dapat dikatakan terpencil dan tersiolasi

“Desa yang terletak di Pulau Seram ini, berada sekitar 25 km di bagian Selatan Werinema dan sekitar 200 km dari Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). Disana masih banyak anak-anak yang putus sekolah, bahkan tidak dapat bersekolah,” kata lulusan Akmil tahun 1999 ini, Jumat (15/2/2019).

“Animo masyarakat lumayan, ini dapat dilihat dari beberapa warga yang menjadi guru bantu sukarela, namun, ya itu, tidak adanya guru tetap dan sarana belajar yang minim. Termasuk anak-anak sekolah pun meski telah berusaha seragam, namun ada juga yang tidak bisa membeli sepatu atau seragam,” katanya.

Situasi tersebut, kata Hari Sandhi, membuat Babinsa Funanayaba (Serka La Adam) terketuk batinnya dan terpanggil serta turut bertanggung jawab atas apa yang dialami oleh warga binaannya. “Yaitu membantu mengajar anak-anak yang putus sekolah dan yang belum bersekolah,” ucapnya.

BACA JUGA: Satgas Pamtas Gagalkan Penyelundupan Ratusan Liter BBM ke Timor Leste

Serka La Adam, anggota Koramil 1502-10/Werinama ini mengatakan, aksinya itu merupakan bentuk panggilan jiwa karena prihatin terhadap masa depan anak-anak di Desa Funannayaba.

“Saya sadar bahwa secara kemampuan, sebagai anggota TNI, kita tidak diberikan kemampuan mengajar, sebagaimana yang dimiliki para guru,” ujarnya.

“Namun, demi melihat mereka (anak-anak), terbayang dalam pikiran saya, seperti apa nasib dan masa depan mereka. Saya ingin mereka punya masa depan yang lebih baik dibanding orang tuanya,” imbuhnya.

Pengalamannya selama 23 tahun berdinas sebagai anggota TNI AD, membuat ayah dari tiga anak ini, membulatkan tekad mengajar anak-anak sekolah dengan segala kemampuan yang dimilikinya dengan menggunakan buku petunjuk yang sangat hanya terbatas.

“Itu pun jumlahnya hanya terbatas, buku (petunjuk) Matematika hanya ada dua dan tentang Sains untuk kelas 3. Saat mengajar pun harus pelan-pelan (sabar), supaya dapat dimengerti oleh mereka,” ujar pria Suku Buton yang lahir di Dusun Waitibu, Maluku Tengah, 45 tahun lalu itu.

Baginya, jabatan selaku Babinsa merupakan pengabdian lanjutan tanpa batas. “Sebagai Babinsa, membantu warga sekitar adalah suatu kehormatan, kebahagiaan dan keceriaan mereka menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya,” ujar La Adam.

La Adam hanya lulusan SMA, karena keterbatasan saat itu dirinya mendaftar jadi anggota TNI AD menggunakan ijazah SMP.

 


Editor : Kastolani Marzuki