Warga Ambon Masih Mengungsi Usai Gempa M6,5 karena Teringat Kisah Tsunami Tahun 1950

Antara, Ilma De Sabrini ยท Senin, 07 Oktober 2019 - 16:03 WIB
Warga Ambon Masih Mengungsi Usai Gempa M6,5 karena Teringat Kisah Tsunami Tahun 1950

Relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Maluku membangun sarana MCK darurat bagi para pengungsi korban gempa bumi di lokasi pengungsian Desa Waai, Pulau Ambon, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Sabtu (5/10/2019). (Foto: Antara)

AMBON, iNews.idWarga Kota Ambon, Provinsi Maluku, masih banyak yang mengungsi pascagempa bumi Magnitudo 6,5 pada Kamis, 26 September 2019 lalu. Warga khawatir karena teringat dengan kisah mengenai kejadian tsunami pada 8 Oktober 1950.

Menurut warga, terutama di Desa Hutumuri, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon, bencana alam saat itu meluluhlantakkan rumah-rumah warga. Warga khawatir kejadian yang sama bakal terulang.

“Kami memilih mengungsi karena cerita para orang tua tentang tsunami meluluhlantakkan rumah-rumah maupun fasilitas lainnya saat itu. Syukurnya tidak ada korban jiwa,” kata tokoh masyarakat Desa Hutumuri, Cak Pattiasina (60), Senin (7/10/2019).

Cak Pattiasina mengatakan, saat tsunami melanda Desa Hutumuri serta Desa Hatiwe Kecil dan Galala di Kecamatan Sirimau tahun 1950, Kota Ambon belum lahir. Namun cerita-cerita mengenai bencana itu masih hidup sampai sekarang.

BACA JUGA:

Warga Maluku yang Mengungsi Terus Bertambah Gara-Gara Percaya Hoaks Tsunami

Beredar Hoaks Pascagempa Maluku, Tim Gabungan Aktif Beri Penjelasan kepada Warga

Sebagian besar warga Desa Hutumuri yang rumahnya di pesisir pantai, mengungsi ke kawasan Bere-Bere. Begitu juga dengan daerah tinggi lainnya. “Karena kami tidak mau ada korban jiwa bila bencana gempa bumi dalam skala besar yang mengakibatkan tsunami benar-benar terjadi sebagaimana pada 8 Oktober 1950,” ujarnya.

Menurut cerita yang mereka dengarkan dari para orang tuanya, kala itu tsunami tidak sampai mengakibatkan korban jiwa. Sebab, warga melihat tanda-tanda yang diduga menunjukkan kapal perang milik TNI siap menyerang pendukung gerakan separatis Republik Maluku Selatan (RMS).

“Jadi warga Hutumuri berlarian masuk hutan di kawasan perbukitan sehingga tidak ada korban jiwa, kendati permukiman dihantam tsunami menjadi luluh lantak,” katanya.

Dia juga mengatakan, setelah gempa September, warga Desa Hutumuri mengungsi karena sebelumnya melihat ikan-ikan karang yang mati terdampar di pesisir Kecamatan Leitimur Selatan.

“Kami belum menerima penjelasan resmi dari pemerintah maupun lembaga penelitian kompeten soal penyebab kematian ribuan ikan karang sehingga mengaitkannya dengan gempa,” katanya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku, Farida Salampessy sebelumnya mengatakan, pascagempa bumi bermagnitudo 6,5 pada Kamis (26/9/2019), di Kota Ambon, Provinsi Maluku, jumlah warga yang mengungsi ke lokasi penampungan sementara terus bertambah. Warga mengungsi karena percaya pada hoaks atau kabar bohong yang menyebutkan akan ada gempa susulan lebih besar disertai tsunami.

Warga yang mengungsi berasal dari tiga wilayah terdampak gempa bumi tersebut, yakni Kota Ambon, Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). “Setiap hari data jumlah pengungsi berubah-ubah,” kata Farida.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo mengatakan, pascagempa di Ambon, Provinsi Maluku, bermagnitudo 6,5 pada Kamis (26/9/2019), beredar hoaks tentang adanya gempa dan tsunami sehingga warga mengungsi. Pemerintah bersama BNPB, TNI, dan Polri hingga kini terus melakukan pendekatan kepada warga agar tidak terpancing hoaks.

Tim gabungan masih terus mengimbau warga untuk kembali ke rumah mereka. Camat, kepala desa, babinsa dan babinkamtibmas di wilayah Kabupaten Seram Bagian Barat telah memberikan penjelasan kepada warga bahwa informasi itu tidak benar.


Editor : Maria Christina