Ajaib, Bocah Ini Selamat dari Jatuhnya Pesawat Dimonim Air di Papua

Chanry Andrew Suripatty ยท Senin, 13 Agustus 2018 - 04:43 WIB
Ajaib, Bocah Ini Selamat dari Jatuhnya Pesawat Dimonim Air di Papua

Tim SAR mengevakuasi Junaidi, bocah berusia 12 tahun yang selamat dari tragedi jatuhnya pesawat di Pegunungan Bintang, Papua. (Foto: iNews.id/Chanry Andrew S)

JAYAPURA, iNews.id – Muhammad Junaidi (12), satu-satunya korban selamat dalam kecelakaan Pesawat Dimonim Air PK-HVQ, di Gunung Menuk, Oksibil, Pegunungan Bintang, Papua, akhirnya berhasil dievakuasi tim SAR gabungan, Minggu (12/8/2018).

Korban kini menjalani perawatan intensif di salah satu ruangan di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Polda Papua, Jayapura.

Kisah selamatnya bocah tersebut pun mendapat perhatian publik. Mereka tak menduga bocah itu bisa lolos dari maut dan mampu bertahan semalaman di tengah kondisi cuaca dingin. Warga semakin takjub terlebih melihat kondisi pesawat yang ditumpangi bocah itu hancur di bagian depan. Dari sembilan penumpang pesawat nahas itu, hanya Junaidi yang selamat.

Kepada perawat, Junaidi menuturkan, pada Minggu (12/8/2018), dia bersama delapan penumpang mengalami kejadian yang mengerikan tersebut. “Begitu terdengar alarm sebagai tanda  jatuhnya pesawat ia (Muhammad Junaidi) dipeluk ayahnya dan bersama-sama melompat keluar,” ungkap Andreas Tukan, seorang perawat di RS Bhayangkara Polda Papua, Minggu (12/8/21018).

Dalam peristiwa nahas tersebut, ayah Junaidi tak dapat diselamatkan dalam insiden tersebut. Walau Junaidi juga sempat tak sadarkan diri.

Setelah siuman, kata Andreas, Junaidi yang dalam kondisi patah lengan kanan dan cedera ringan sempat berjalan memasuki bangkai pesawat untuk mencari air minum.

“Dia bilang ke saya saat itu karena haus ia sempat masuk ke dalam bangkai pesawat dan tidur di dalam, mungkin bersama sebagian jenazah penumpang lainnya yang tak selamat,” ujar Andreas.

Menurut Andreas, dari kondisi pesawat yang dilihatnya dari tim SAR kondisi pesawat tampak hancur. Bagian depan pesawat hancur, sementara bagian tengah dan belakang masih utuh meski ada beberapa penyok di beberapa bagian.

Melihat kondisi korban selamat ini apalagi korban masih anak-anak, Anderas mengaku sangat takjub korban tetap tegar dan stabil, padahal baru saja mengalami kejadian yang sangat mengerikan. “Pesawat jatuh, korban ‘menginap’ di dalam hutan belantara Papua dengan segala resiko yang ada dan ditemani sejumlah mayat yang bergelimpangan,” ungkap Andre.

Selain kondisi yang dialami, kepada perawat tersebut, korban sempat bercerita tentang kondisi adanya dua penumpang lainnya yang awalnya masih sempat hidup, namun akhirnya meninggal dunia pada saat subuh tiba.

Saat ini, Junaidi telah mendapatkan perawatan khusus di RS Bhayangkara Polda Papua, Jayapura. Kondisi korban menurut dokter setempat dalam kondisi stabil, walaupun ada bagian tangan kanan korban yang patah.

“Pasien masuk ke rumah sakit dengan hemodinamik stabil. Itu artinya tak ada pendarahan yang mengancam jiwanya,” kata dokter Hery Budiono.


Editor : Kastolani Marzuki