Siswi SD di Wamena Meninggal setelah Disuntik Vaksin Rubella

Antara, Diaz Abraham · Selasa, 14 Agustus 2018 - 16:51 WIB
Siswi SD di Wamena Meninggal setelah Disuntik Vaksin Rubella

Seorang siswi lumpuh setelah disuntik vaksin rubella di Demak, Jawa Tengah, pada 2017 lalu. (Foto: Dok.iNews.id)

WAMENA, iNews.id – Agustina Logo (9), siswi kelas II SD Umpakalo, Wamena, Papua, meninggal dunia setelah disuntik vaksin campak dan rubella di Wamena, Selasa, (14/8/2018) siang.

Sebelum meninggal dunia, Agustina pingsan setelah disuntik petugas medis dengan vaksin campak dan rubella. Selain Agustina, petugas medis juga menyuntikan vaksin kepada enam teman lainnya. Berdasarkan informasi sementara, Agustina merupakan siswa keenam yang disuntik vaksin campak dan rubella di sekolahnya.

Sesaat setelah disuntik, Agustina langsung pingsan sehingga dilarikan ke RSUD Wamena, namun dalam perjalanan anak itu sudah meninggal dunia. Seorang dari beberapa guru yang mengantar Agustina ke RSUD mengatakan bahwa anak tersebut memang pernah pingsan saat di sekolah. "Sering pingsan. Itu sudah lama," kata seorang guru di RSUD.

Lima siswa lainnya yang sebelumnya disuntik vaksin campak dan rubella bersama-sama dengan Agustina, dilaporkan dalam keadaan baik, atau tidak mengalami masalah seperti Agustina.


BACA JUGA: 

2020, Indonesia Akan Terbebas dari Campak dan Rubella

Polemik Kehalalan Vaksin MR, Begini Solusi dari MUI


Berdasarkan pantauan, sejumlah keluarga dari Agustina sudah mendatangi RSUD, terlihat juga petugas kepolisian sudah berada di lokasi untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Pemerintah tahun ini menargetkan 31,8 juta anak bisa ikut serta dalam program eliminasi campak dan pengendalian penyakit rubella. Fase I telah dilaksanakan selama Agustus-September di seluruh Pulau Jawa dengan lebih dari 35,3 juta anak menjadi pesertanya.

Fase II akan dilaksanakan pada bulan yang sama. Sebanyak 31,8 juta anak diharapkan ikut serta untuk membebaskan Indonesia dari penyebaran dua penyakit yang mematikan tersebut.

Vaksinasi rubella ini juga memicu pro kontra di masyarakat terutama masalah kehalalan vaksin Measles Rubella (MR). Pasalnya, vaksin tersebut belum lagi memiliki sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Terkait masalah itu, Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Ni'am Soleh mengatakan, vaksin nonhalal sebenarnya pernah digunakan dan diperbolehkan untuk imunisasi di Indonesia 16 tahun silam. Fatwa tersebut muncul dikarenakan adanya kedaruratan pada masa itu.


Editor : Kastolani Marzuki