Tolak Kibarkan Merah Putih, Puluhan Mahasiswa Papua Diperiksa Polisi

Antara, Yudha Prawira ยท Kamis, 16 Agustus 2018 - 21:30 WIB
Tolak Kibarkan Merah Putih, Puluhan Mahasiswa Papua Diperiksa Polisi

Sejumlah perwakilan ormas bernegosiasi dengan perwakilan mahasiswa Papua di depan asrama di Surabaya, Rabu (15/8/2018). (Foto: iNews/Yudha Prawira)

SURABAYA, iNews.id – Pascapenolakan puluhan mahasiswa Papua mengibarkan bendera Merah Putih di depan Asrama Kamasan Jalan Kalasan 10, Tambaksari, Surabaya, Jawa Timur (Jatim), Rabu (15/8/2018), Polrestabes Surabaya menggeledah asrama tersebut. Puluhan penghuninya diangkut menggunakan truk ke Markas Polrestabes Surabaya untuk pemeriksaan.

Kepala Polrestabes Surabaya Kombes Rudi Setiawan mengatakan, ada beberapa perkara yang mereka selidiki. Salah satunya dugaan aktivitas gerakan makar di dalam asrama tersebut yang terindikasi dari penolakan pengibaran bendera Merah Putih di depan asrama, Rabu siang.

Selain itu, polisi juga menyelidiki perkara penganiayaan menggunakan senjata tajam sejenis parang yang diduga dilakukan salah seorang penghuni mess terhadap seorang anggota ormas hingga terluka. Penganiayaan itu terjadi menyusul anggota ormas yang mendesak pengibaran bendera Merah Putih di depan asrama. “Kami selidiki semua perkara itu satu per satu,” katanya, Kamis (16/8/2018).

BACA JUGA: Bentrok Warnai Pemasangan Bendera Merah Putih di Asrama Mahasiswa

Pengerahan personel Polrestabes Surabaya ke mess mahasiswa asal Papua di Jalan Kalasan Surabaya tadi malam, lanjut Rudi, salah satunya untuk mencari barang bukti senjata tajam jenis parang yang digunakan melukai seorang anggota ormas. Barang bukti itu akhirnya ditemukan oleh personel Polrestabes Surabaya saat penggeledahan di dalam asrama atau disebut juga mess. Polisi kemudian memerintahkan seluruh penghuni naik ke atas truk polisi untuk dibawa ke Markas Polrestabes Surabaya.

Berdasarkan laporan masyarakat sekitar, asrama mahasiswa asal Papua di Jalan Kalasan Surababya itu selama ini terkesan tertutup. Mereka kerap menggelar pertemuan yang dikhawatirkan terkait dengan dugaan makar yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Saat dibawa menggunakan truk polisi ke Markas Polrestabes Surabaya, para mahasiswa Papua itu terdengar bersahut-sahutan meneriakkan “Papua Merdeka”. “Satu per satu mereka akan kami mintai keterangan, baik terkait kasus penganiayaan akibat insiden penolakan pengibaran bendera maupun dugaan gerakan makar,” ujar Kombes Rudi.

Sementara itu, Ketua Ikatan Keluarga Besar Papua Surabaya (IKBPS) Piter Sumaseb mendukung penyelidikan yang dilakukan Polrestabes Surabaya terhadap gerakan para mahasiswa Papua yang menolak mengibarkan bendera Merah Putih di depan asrama.

“Siapapun yang melakukan pelanggaran hukum harus ditindak, tidak boleh diistimewakan. Ini jadi pembelajaran bagi kita semua bahwa hidup harus taat pada aturan. Kita hidup sehari-hari ada aturan yang harus dipatui. Tidak boleh seenaknya,” ujar Piter Sumaseb usai mengikuti mediasi yang digelar tertutup di Markas Polrestabes Surabaya, Kamis (16/8/2018).

Dia menegaskan, pengibaran bendera Merah Putih di tiap rumah, sebagaimana dianjurkan pemerintah mulai tanggal 14 hingga 18 Agustus, merupakan kewajiban warga negara Indonesia dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI).

“Seharusnya mereka mengerti ini kewajiban kita. Kemarin camat datang ke mess di Jalan Kalasan bawa bendera ditolak. Terus apa lagi yang mau dijelaskan pada mereka,” ucapnya.

Piter mengatakan, dari pihak IKBPS, sebenarnya sudah melakukan sosialisasi bersama perangkat kecamatan setempat terkait kewajiban mengibarkan bendera Merah Putih di mess Jalan Kalasan Surabaya dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan RI. “Tapi mereka tidak merespons itu,” ucapnya.

Setelah insiden ini, lanjut dia, IKBPS akan melakukan pendekatan dan memberikan penjelasan dan pengertian terhadap adik-adiknya yang menghuni mess di Jalan Kalasan Surabaya. “Kejadian ini memang terkait dengan rasa nasionalisme kita,” ujarnya.

Sekitar 25 mahasiswa asal Papua yang menempati mess atau asrama di Jalan Kalasan Surabaya hingga malam ini masih menjalani pemeriksaan di Polrestabes Surabaya.


Editor : Maria Christina