600 Personel TNI Kerjakan Jembatan di Nduga yang Sempat Diganggu KKB

Antara ยท Selasa, 05 Maret 2019 - 10:10 WIB
600 Personel TNI Kerjakan Jembatan di Nduga yang Sempat Diganggu KKB

Anggota TNI AD mengikuti apel pemberangkatan Satgas ke Papua di Pelabuhan Soekarno Hatta, Makassar, Sulsel, Minggu (3/3/2019). Sebanyak 600 anggota TNI AD diberangkatkan ke Papua untuk mengamankankan pembangunan jembatan dan jalan trans Papua. (ANTARA FOTO/Abriawan Abhe)

JAYAPURA, iNews.id – Mabes TNI mengerahkan 600 personelnya untuk melanjutkan pembangunan jembatan di Kabupaten Nduga yang sebelumnya dikerjakan PT Istaka Karya dan PT Brantas Abdibraya. Personel TNI juga melakukan pengamanan selama pengerjaan yang tidak tuntas setelah sebelumnya diserang Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

“Personel TNI yang dikerahkan itu saat ini dalam perjalanan menuju Timika, untuk selanjutnya menuju Nduga,” kata Kepala Balai Besar Pembangunan Jalan Nasional (BBPJN) XI Jayapura Osman Marbun di Jayapura, Selasa (5/3/2019).

Osman Marbun mengatakan, 600 personel yang dikerahkan itu terdiri dari Zipur 8 dan Yonif 431 dari Kodam Wirabuana. Ratusan personel TNI itu dikerahkan untuk menyelesaikan pembangunan 16 jembatan dan diharapkan selesai Desember mendatang. Dia berharap selama proses pengerjaan tidak ada hambatan.

BACA JUGA:

Kapolres Klaim Tembagapura Steril dari KKB, Pemilu Diprediksi Kondusif

31 Pekerja Dibunuh KKB di Nduga Papua, Berikut Identitas 24 Korban

Dia menambahkan, untuk pengerjaan jembatan, Zipur 8 tidak membawa alat berat. Ratusan personel TNI itu nantinya akan menggunakan peralatan yang ada di lokasi.

“Bila peralatan yang ada masih bisa digunakan akan digunakan, namun mereka juga membawa peralatan lapangan,” kata Osman Marbun.

Pembangunan 21 jembatan di Nduga yang sebelumnya dikerjakan PT Istaka Karya dan PT Brantas terhenti karena kamp karyawan diserang KKB pada awal Desember 2018.

Dalam kejadian itu, 19 orang di antaranya meninggal akibat ditembak dan dibunuh. Bahkan empat orang lainnya, yakni Ricky Cardo Simanjuntak, Petrus Ramli, M Ali Akbar dan Hardi Ali hingga kini belum diketahui nasibnya.


Editor : Maria Christina