Bahas Nasib Ratusan Pengungsi, Bupati Nduga Akan Bertemu Presiden

Antara ยท Rabu, 20 Maret 2019 - 07:56 WIB
Bahas Nasib Ratusan Pengungsi, Bupati Nduga Akan Bertemu Presiden

Ilustrasi pengungsi dari Kabupaten Nduga, Papua. (Foto: IST)

WAMENA, iNews.id – Bupati Nduga Yairus Gwijangge berencana bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membahas nasib ratusan pengungsi dari kabupaten itu. Warga masih belum kembali ke Nduga pascapenembakan para pekerja jalan Trans Papua oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pada awal Desember 2018.

Yairus mengatakan, para pengungsi yang belum kembali ke Nduga di antaranya anak-anak sekolah yang sementara berada di Kabupaten Jayawijaya.

“Pemerintah Nduga, gereja, dan sekolah berusaha melobi untuk bertemu presiden terkait pengungsi. Setelah mendengar jawaban presiden seperti apa, lalu akan putuskan mereka tetap sekolah di sini atau akan kembali ke Nduga,” kata Yairus di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Selasa (19/3/2019).

BACA JUGA:

Trauma, Puluhan Guru di Nduga Mengungsi Pascakontak Senjata KKB-TNI

31 Pekerja Dibunuh KKB di Nduga Papua, Berikut Identitas 24 Korban

Menurut Yairus, para guru, relawan pengungsi dan pihak gereja telah sepakat, ratusan anak-anak Nduga yang sementara berada di Jayawijaya tetap bersekolah di sana. Sementara rencana ke depan masih menunggu kepitusan pemerintah.

“Presiden setuju atau tidak setuju, kami akan sesuaikan setelah kami mengetahui presiden maunya seperti apa. Kami mengikuti,” ujarnya.

Menurut bupati, sementara ini para siswa Kelas XIII mengikuti ujian sekolah sehingga tidak bisa dipindahkan. Mereka harus tetap mengikuti ujian di Jayawijaya. “Sementara ujian sudah dimulai, jadi kita tidak minta pindahkan lagi. Tetap lanjutkan ujian di sini,” katanya.

Sementara Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua menyebutkan, pemerintah daerah sudah menyediakan gedung sekolah untuk digunakan sementara oleh anak-anak pengungsi Nduga di Jayawijaya.

“Jadi fasilitas sekolahnya kami siapkan, tinggal guru dan murid dari Nduga menggunakan sekolah ini,” ujarnya.

Jhon menambahkan penggunaan sekolah itu akan dibagi. Siswa dan guru dari Jayawijaya menggunakan sekolah dari pagi hingga siang hari. Setelah mereka pulang, siswa dan guru pengungsi dari Nduga menggunakan sekolah tersebut untuk kegiatan belajar mengajar.


Editor : Maria Christina