BBKSDA Papua Barat Sayangkan Pembantaian 292 Ekor Buaya di Sorong

Chanry Andrew Suripatty ยท Minggu, 15 Juli 2018 - 23:36 WIB
BBKSDA Papua Barat Sayangkan Pembantaian 292 Ekor Buaya di Sorong

Warga sorong menyeret buaya di penangkaran milik CV MLA. (Foto: ist)

SORONG, iNews.id – Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua Barat menyayangkan aksi warga yang membantai 292 ekor buaya di penangkaran buaya milik CV Mitra Lestari Abadi (MLA). Pembantaian ratusan satwa dilindungi itu dipicu tewasnya Sugito (48) warga SP 1.

Kepala BBKSDA Papua Barat, R Basar Manullang menjelaskan, penangkaran buaya tersebut merupakan salah satu penangkaran yang ada di Provinsi Papua Barat.

"Buaya merupakan satwa yang dilindungi berdasarkan PP Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Namun, khusus di Papua, buaya masuk kategori satwa buru dan dapat dimanfaatkan dengan pengaturan khusus. CV MLA merupakan penangkar resmi yang memiliki izin penangkaran sesuai dengan Keputusan Direktur Jenderal PHKA Nomor: SK.264/IV-SET/2013 tanggal 9 Desember 2013 tentang Perpanjangan Ijin Usaha Penangkaran Buaya Air Tawar (Crocodilus novaeguineae) dan Buaya Muara (Crocodyllus porossus) yang dilindungi Undang-Undang,” kata Manullang dalam rilisnya yang diterima iNews.id, Minggu (15/7/2018).

Manullang menjelaskan, pemilik penangkaran tersebut telah mengantongi izin penangkaran dari Direktur Jenderal PHKA didasari persyaratan yang telah dipenuhi antara lain surat keterangan lokasi tidak menimbulkan gangguan bagi lingkungan manusia sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.19/Menhut-II/2005 tanggal 19 Juli 2005 tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar.

BACA JUGA: Sadis, Warga Sorong Ramai-ramai Bantai 292 Ekor Buaya di Penangkaran


Manullang menuturkan, kronologi kejadian tewasnya Sugito(34) bermula saat dia masuk ke dalam areal penangkaran untuk mencari rumput pakan ternak di sekitar atau dekat kandang induk buaya tanpa sepengetahuan pemilik. “Sementara areal penangkaran buaya tersebut jauh dari permukiman masyarakat,” ungkapnya. 

Salah satu penjaga mendengar teriakan minta tolong dan bergegas ke sumber suara yang berasal dari kandang induk buaya. BKSDA kemudian segera bertindak mengevakuasi korban dari kolam induk buaya serta berkoordinasi dengan masyarakat dan Polsek Klamalu. “ BBKSDA Papua Barat dan manajemen telah memberikan penjelasan kepada aparat Polsek Klamalu terkait insinden itu,” katanya.

Keduanya pun memfasilitasi pertemuan antara keluarga korban yang didampingi oleh Kerukunan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) dan perusahaan yang telah menghasilkan kesepakatan damai bersama, dan memberikan santunan sebelum pemakaman jenazah dilakukan.

Namun, pada Sabtu (14//7/2018) sebelum jenazah dimakamkan, Ketua Ikawangi menghimbau masyarakat pelayat agar tetap tenang dan tidak terprovokasi. “Seusai pemakaman, sekitar pukul 11.15 WIT, secara tidak terduga, masyarakat serentak menuju lokasi penangkaran dengan membawa senjata tajam, palu pemecah batu, balok kayu, sekop. Di antara kerumunan massa, dikenali ada salah satu seorang pejabat publik Kabupaten Sorong,” ujar Manullang.

Untuk menyelesaian kasus ini, Manullang mengharapkan semua pihak terkait untuk berkoordinasi dengan baik. Setelah insiden tersebut, BBKSDA bekerja sama dengan Polsek Klamalu melakukan pengukuran, identifikasi dan penghitungan jumlah buaya yang mati untuk keperluan proses selanjutnya.


Editor : Kastolani Marzuki