Mengenal KRI Rencong 622 yang Terbakar dan Tenggelam di Sorong

Antara ยท Selasa, 11 September 2018 - 17:55 WIB
Mengenal KRI Rencong 622 yang Terbakar dan Tenggelam di Sorong

KRI Rencong 622. (Foto: Dinas Penerangan TNI AL)

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media

JAKARTA, iNews.id - KRI Rencong 622 yang terbakar hebat dan tenggelam di perairan Pulau Senapan, Sorong, Papua Barat merupakan kapal cepat berpeluru kendali. Kapal perang ini dibuat di galangan kapal Tacoma SY, Masan, Korea Selatan, pada 1979.

Saat musibah terjadi, Kapal ada di sana dalam penugasan di bawah kendali Gugus Keamanan Laut Komando Armada III TNI AL itu. Kapal lain dalam kelas yang sama adalah KRI Mandau-621, KRI Badik-623, dan KRI Keris-624. Cikal-bakal kapal perang ini berasal dari rancang-bangun kapal patroli kelas Dagger/Ashville, buatan Amerika Serikat.

Kapal dengan bodi dari alumunium itu, sehingga bobotnya ringan dan lincah digerakkan mesin gas turbin General Electric LM 1500 selain dua mesin diesel untuk kecepatan rendah. Jika semua sistem propulsi ini dioperasikan, dia bisa mencapai kecepatan 40 knot (setara 74,08 kilometer perjam untuk wahana darat).

BACA JUGA:

KRI Rencong 622 Terbakar dan Tenggelam di Perairan Senapan Kota Sorong

Banyak Amunisi, Tim SAR Dilarang Dekati KRI Rencong yang Terbakar

TNI AL Bentuk Tim Penyidik Selidiki Terbakarnya KRI Rencong di Sorong

Yang menarik dari kapal perang yang dirancang-bangun dan dioperasikan pada masa Perang Dingin ini adalah kehadiran empat peluru kendali permukaan-ke-permukaan atau permukaan-ke-udara MM-38 Exocet buatan Aeropastiale, Prancis, yang legendaris. Perang Falkland menjadi kampanye efektif bagi MM-38 Exocet.

Sejak ada kerja sama alih teknologi dengan China, maka kehadiran peluru kendali yang sudah terbukti itu digantikan peluru kendali C-802 buatan SACCADE, China.

Kapal perang ini juga dilengkapi sistem pertahanan titik meriam Bofors 40/70 dan 57/70 mm buatan Bofors/Saab, Swedia, pemandu tembakan Signaal WM28, kanon penangkis serangan udara Rheinmetall 20 mm, dan dia mampu membawa satu helikopter.

Di ruang sistem manajemen tempurnya, terdapat sistem radar MR-302/Strut Curve untuk memandu tembakan sistem pertahanan MR-123 Vympel/Muff Cob.


Editor : Kastolani Marzuki