Polisi Ungkap Kasus Penyelundupan 1.500 Liter Cap Tikus di Sorong

Chanry Andrew Suripatty ยท Selasa, 18 September 2018 - 18:19 WIB
Polisi Ungkap Kasus Penyelundupan 1.500 Liter Cap Tikus di Sorong

Ilustrasi miras dalam jeriken. (Foto: Istimewa)

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media

SORONG, iNews.id – Pasukan Khusus Batalion B Pelopor Polda Papua Barat mengamankan 60 jeriken atau setara 1.500 liter minuman keras (miras) lokal illegal jenis cap tikus yang akan diselundupkan ke Kota Sorong. Miras itu disembunyikan dalam sebuah perahu yang sengaja ditutupi terpal berwarna biru untuk mengelabui petugas dan warga.

Kasatintel Brimob Batalion B Pelopor Polda Papua Barat Kompol J Watimenna Suruan mengungkapkan, pengungkapan atas kasus penyelundupan miras itu berawal dari adanya laporan masyarakat. Pelaku yang diamankan berinisial KT diduga selama ini kerap memasok miras tersebut dan mengedarkannya ke wilayah Sorong.

"Informasi ini berasal dari laporan masyarakat yang resah dengan kegiatan pelaku KT,” ujar Watimenna, Selasa (18/9/2018).


BACA JUGA:

Miras Oplosan Maut di Ciamis, Polisi Amankan Pasutri Penjual Alkohol

Pelajar SMP dan Pamannya Tewas Usai Pesta Miras Oplosan di Ciamis


Dia menceritakan, kronologi pengerebekan bermula dengan anggotanya yang turun ke lapangan menyelidiki laporan masyarakat. Sekitar pukul 19.00 WIT, petugas menemukan barang bukti cap tikus beserta lima terduga pelaku.

“Para pelaku langsung dibawa ke Kantor Mako Brimob untuk dimintai keterangan atas kepemilikan 1.500 liter cap tikus,” ujarnya.

Ketua Dewan Adat Papua Wilayah III Doberay, Mananwir Vinsen Mayor mengapresiasi kinerja aparat Kepolisian dalam menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat (Kamtibmas). Miras dinilai menjadi pemicu dan KDRT selama dua tahun terakhir di Kota Sorong.

"Kami apresiasi Satuan Brimob dan akan kawal kasus ini hingga tuntas. Masalah miras ini telah banyak mengurangi populasi orang Papua. Selain itu berbagai tindakan kriminal lainnya seperti kekerasan dalam rumah tangga ( KDRT), pergaulan bebas dan pemalakan sering terjadi saat pesta miras," ujar Vinsen, Selasa (18/9/2018).

Dewan Adat juga meminta agar polisi segera memproses hukum yang bersangkutan sesegera mungkin. “Pelaku harus dijerat dengan hukuman maksimal sesuai peraturan dan undang undang yang berlaku,” tuturnya.


Editor : Donald Karouw