Prajurit Kostrad Amankan 21 Kg Vanili Ilegal di Perbatasan Papua

Irfan Ma'ruf ยท Selasa, 05 Februari 2019 - 03:03 WIB
Prajurit Kostrad Amankan 21 Kg Vanili Ilegal di Perbatasan Papua

Prajurit Yonif PR 328/Dgh menunjukkan barang bukti 21 kg vanili ilegal yang diamankan dari SK di Pos Pitewi, Papua, Minggu (3/2/2019). (Foto: Dispenad).

JAKARTA, iNews.id – Prajurit TNI dari Yonif PR 328/Dgh Kostrad di Pos Pitewi, Papua untuk kedua kalinya mengamankan vanili ilegal. Kali ini sebanyak 21 kilogram ‘emas hijau’ tanpa dilengkapi dokumen resmi itu diamankan dari kendaraan jenis Toyota Avanza, Minggu (3/12/2018).

Dansatgas Pamtas Yonif PR 328/Dgh Mayor Inf Erwin Iswari mengatakan, kejadian bermula pada pukul 17.45 Wit saat Serda Fathkur Rohman melaksanakan pemeriksaan rutin terhadap kendaraan yang lewat didepan Pos Pitewi. Saat diberhentikan, sebuah Toyota Avanza diketahui mengangkut vanili.

”Saat diminta menunjukan dokumen resmi, pengemudi tidak dapat menunjukkan dokumen maupun surat resmi,” tutur Erwin melalui keterangan tertulis, Senin (4/2/2019).

Dia menerangkan, meski terhitung mudah didapat, vanili ternyata merupakan salah satu rempah-rempah termahal di dunia dengan harga jual mencapai jutaan rupiah. Karena harga yang cukup tinggi, vanili sering disebut juga sebagai emas hijau. Selain untuk bahan makanan, vanili juga sebagai bahan susu dan kue.

BACA JUGA: Terima Kasih Bapak Tentara, Kami Tiba di Sekolah Tepat Waktu

“Untuk vanili kering, seperti yang kita amankan ini, berkualitas super dan jika dijual akan dihargai Rp3,5-4 juta. Maka, nilai jual barang sejumlah 21 kg ini tentu sangat menggiurkan,” ujarnya.

Sebagaimana tugas yang diterimanya, Satgas Pamtas di ujung perbatasan Indonesia-Papua Nugini berkewajiban antara lain menjamin untuk tidak terjadi atau mencegah infiltrasi dari luar negeri.

“Ini penting kita lakukan, karena upaya infiltrasi atau pelintas batas ilegal dapat dimungkinkan terjadi (di wilayah perbatasan), khususnya terkait dengan penjualan barang terlarang seperti senjata, narkoba dan lain sebagainya,” ujar Erwin.

Namun, di luar penyelundupan itu ternyata banyak terjadi kegiatan ilegal, salah satunya penyelundupan vanili. Terkait kejadian ini, pengemudi mobil, SK (27 tahun) dimintai keterangan.

Selain itu, lima penumpang warga negara Papua Nugini, yaitu E (50), L (15), B (21), T (22 ) dan D (21) juga diperiksa karena masuk tanpa melalui prosedur resmi (pelintas batas ilegal).

’’Menurut pengakuan mereka, vanili akan dijual di Jayapura. Setelah laku (mereka) akan kembali lagi ke PNG (Papua Nugini),” ucap Erwin.


Editor : Zen Teguh