Warga Perantauan Arak Jenazah Korban Penganiayaan ke Polres Sorong

Chanry Andrew Suripatty ยท Selasa, 23 Oktober 2018 - 08:58 WIB
Warga Perantauan Arak Jenazah Korban Penganiayaan ke Polres Sorong

Suasana saat warga yang mengarak jenazah memaksa masuk ke dalam Mapolres Sorong Kota. (Foto: iNews/Chanry Andrew Suripatty)

SORONG, iNews.id – Puluhan warga perantauan yang bermukim di Kota Sorong, Papua Barat, mengarak jenazah Roka Sawakul, korban penganiayaan orang tak dikenal dari rumah sakit (RS) Sele Be Solu menuju Polres Sorong Kota, erjarak sekitar 5 kilometer (Km), Senin (22/10/2018). Aksi itu sempat membuat situasi di Kota Sorong mencekam.

Pantauan di lokasi, puluhan warga itu berjalan kaki sambil mengacung-acungkan senjata tajam berupa parang dan potongan pipa besi. Aksi massa mengarak jenazah ini membuat arus lalu lintas di ruas Jalan Ahmad Yani hingga Jalan Basuki Rahmad lumpuh total.

Saat tiba di pintu masuk Mapolres Soron, massa memaksa masuk dan ingin meletakkan jenazah almarhum di halaman Mapolres. Akibatnya sempat terjadi bentrok antara polisi dan massa.

Mereka melempari polisi dengan gelas air mineral dan batu. Saat massa semakin tidak terkendali, polisi kemudian melepaskan tembakan peringatan berkali-kali ke udara dan gas air mata.

Setelah sempat adu mulut, polisi akhirnya memperbolehkan 10 orang perwakilan warga untuk berdialog dengan Wakapolres Sorong Kota Kompol Hengky Kristanto Abadi.

Mereka mengaku kecewa atas penanganan kasus tewasnya Roka Suwakul. Karena sudah dua pekan polisi belum juga menangkap pelaku penganiayaan. Mereka menilai kondisi kamtibmas di Kota Sorong saat ini sangat meresahkan. Pengamanan dari kepolisian dianggap tidak maksimal sehingga menyebabkan kerabat mereka jadi korban penganiayaan.

"Sudah hampir dua minggu kejadian di Sorong Timur itu tidak tertangani secara baik. Padahal saksi korban ada, kemudian ada indikasi pelaku itu ada. Ini bentuk kekecewaan masyarakat yang merupakan keluarga korban terhadap penanganan polisi," kata perwakilan pihak keluarga korban, Abdullah Gazam.

Usai berdialog, warga akhirnya membawa pulang jenazah ke rumah duka untuk disalatkan sebelum dimakamkan. Polisi berjanji akan menangkap pelaku penganiayaan dan memproses hukum setelah bukti-bukti yang diperlukan lengkap.

Wakapolres Kompol Hengky Kristanto Abadi mengatakan, pihaknya sejauh ini sudah menahan tiga orang yang diduga terlibat dalam penganiayaan dua warga perantau tersebut. Pihaknya saat ini sedang mencari bukti tambahan sebelum menetapkan ketiganya sebagai tersangka.

"Di daerah Manibela, ada orang yang dikeroyok oleh massa sehingga salah satunya pagi tadi meninggal dunia. Di sini yang menimbulkan ketidakpuasan dari masyarakat sehingga mereka mnelakukan aksi protes. Tetapi dalam negosiasi yang terjadi tadi tidak ditemukan titik temu," kata Hengky.


Editor : Donald Karouw