Waspadai Banjir Bandang Susulan di Sentani Papua, Ini Tanda-tandanya

Ilma De Sabrini ยท Jumat, 22 Maret 2019 - 11:34 WIB
Waspadai Banjir Bandang Susulan di Sentani Papua, Ini Tanda-tandanya

Seorang pengendara terjatuh ketika berusaha menerobos banjir di Sentani, Jayapura, Papua, Kamis (21/3/2019). BMKG memprediksi curah hujan masih tinggi seminggu ke depan sehingga berpotensi menyebabkan banjir bandang susulan. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

JAYAPURA, iNews.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi banjir bandang susulan berpotensi melanda wilayah Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, menyusul curah hujan yang tinggi. Masyarakat pun diminta waspada dengan memperhatikan tanda-tanda akan terjadinya musibah itu.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, ada sejumlah tanda yang bisa menjadi alarm peringatan dini saat terjadinya banjir bandang. Dengan mengetahui hal ini, masyarakat diharapkan bisa segera menyelamatkan diri.

“Sejumlah tanda akan terjadi banjir bandang di antaranya, air sungai yang tiba-tiba berwarna keruh atau mengalir bersama lumpur, pasir, serta ranting dan batang kayu,” kata Dwikora Karnawati saat mengunjungi Posko Induk Banjir Sentani di Kompleks Bupati Jayapura, Gunung Merah, Kamis (21/3/2019).

BACA JUGA:

Sentani Terancam Dilanda Banjir Bandang Susulan, Ini Penjelasan BMKG

Tim DVI Polda Papua Identifikasi 61 Jenazah Korban Banjir Bandang

Dwikora sebelumnya mengatakan, BMKG memprediksi lima hari hingga seminggu ke depan, hujan masih akan mengguyur Jayapura dengan intensitas sedang hingga lebat dari malam hingga dini hari.

Selain waspada banjir bandang, masyarakat juga harus waspada terhadap ancaman tanah longsor dan angin kencang. Perubahan lahan di lereng dan kaki Gunungan Cyclop secara tidak terkendali, semakin memperparah kejadian banjir bandang. Hal tersebut dikhawatirkan mengakibatkan makin berkurangnya vegetasi yag menahan aliran air dari atas.

“Meski di hilir tidak hujan, hujan di hulu ditambah kondisi lereng yang rapuh tentu menjadi pemicu longsoran,” ujarnya.

Dwikora mengatakan, potensi hujan yang masih akan mengguyur Jayapura tersebut diperkirakan dengan memperhatikan pengaruh kondisi lokal dan pertemuan aliran udara akibat sistem pola tekanan rendah di utara Papua. Kondisi tersebut dapat berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan awan dan hujan di wilayah Jayapura.

Selain itu, perlu diwaspadai pula pola pertemuan aliran udara dan pertumbuhan awan di Papua bagian selatan. Ini merupakan dampak pengaruh siklon tropis Trevor yang saat ini masih berada di Teluk Carpentaria, di sebelah selatan Papua.

Diketahui, banjir bandang di Kabupaten Jayapura menyebabkan 104 orang meninggal, hingga Rabu (20/3/2019). Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho sebelumnya mengatakan, dari 104 orang yang meninggal dunia, 97 orang korban ditemukan di Kabupaten Jayapura dan tujuh orang korban di Kota Jayapura. 


Editor : Maria Christina